//
you're reading...
antropologi, tentang ilmu sosial, tentang kota, tentang museum, tentang sejarah

Revitalisasi Museum: memecah persoalan museum di Indonesia*

oleh Khidir Marsanto P.

Aplikasi gratis musée du quai Branly, kota Paris, Prancis untuk telepon seluler berperangkat-lunak Android atau iPhone. Aplikasi ini menampilkan kilas pameran di ruang koleksi benda etnografi dan arkeologi dari Asia dan Oceania

# I

Di Eropa, keberadaan museum merupakan salah satu institusi pemegang otoritas pengembangan ilmu pengetahuan. Salah satunya yang dikembangkan adalah antropologi. Begitu kata Henrietta Lidchi. Sampai di akhir abad ke-19, benda-benda ‘etnografis’ dikoleksi, ditelaah, dilabeli, diklasifikasikan, dan dipamerkan melalui berbagai departemen etnografi di museum hampir seluruh penjuru negara Eropa: Prancis, Denmark, Austria, Jerman, Belanda, Inggris, Italia, dan Spanyol (Lidchi 1997:160—161). Sebetulnya museum tak hanya perhatian pada benda-benda etnografi berbau “eksotis” saja, melainkan juga benda-benda alam.

Dalam tradisi keilmuan yang begitu mengakar, koleksi etnografis di museum-museum itu menjadi cikal-bakal munculnya disiplin antropologi sebagai the study of man and its culture, berikut para ilmuwannya—seperti Marcell Mauss dan Claude Lévi-Strauss di Prancis, W.H.R. Rivers di Inggris, de Josselin de Jong di Belanda, Wilhelm Schmidt dan Adolf Bastian di Jerman. Antropologi lantas disahkan sebagai salah satu ilmu pengetahuan tentang manusia (a human science) hasil pengubahsuaian (modifikasi) dari ilmu tentang kebudayaan yang lebih dulu muncul: etnologi dan etnografi.

Praktik kolonialisme di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika melahirkan teks-teks sejarah dan etnologi yang kala itu dikembangkan untuk memahami dan menaklukkan masyarakat lokal di daerah jajahan. Sementara, benda-benda ‘eksotik’ dan foto-foto hasil jepretan dijadikan materi pameran museum di negerinya, seperti dalam Festival Kolonial sedunia, Bois de Vincennes di Prancis pada 1931 (Gouda 2007:366).

Di Nusantara, Belanda sebagai pihak berkuasa atas Hindia-Belanda kala itu tentu saja berpeluang mengumpulkan benda-benda budaya di museum untuk dipelajari lebih jauh (Marsanto 2008:37-43). Bukti konkretnya: Museum Sonobudoyo. Sonobudoyo digagas oleh Java Instituut pada tahun 1930an untuk mengkaji dan menarasikan beberapa kebudayaan di Nusantara dalam kerangka ilmu pengetahuan bangsa Eropa (lihat Erkelens 2001). Dengan orientasi semacam ini, praktis politik kolonialisme hadir dalam merepresentasikan kebudayaan Nusantara di museum.

Ketika Indonesia menyatakan kemerdekaannya, sebagai negara belia merasa perlu simbol-simbol fisik untuk merepresentasikan identitas keindonesiaan. Simbol-simbol material seperti monumen-monumen dibangun dan diwacanakan melalui museum—setelah pada Sumpah Pemuda disepakati lambang nasionalisme berupa bahasa Indonesia. Secara politik, ini kemudian berlaku sebagai prasyarat penting bagi pendefinisian Indonesia modern. Maka, tak heran bila pada 1960an, setelah pertemuannya dengan Presiden Josip Broz Tito di Belgrade, Yugoslavia pada 1961, Sukarno sangat berambisi membangun Monumen Nasional (Monas), Monumen Selamat Datang, Stadion Gelora Bung Karno, dan bangunan lainnya (lihat Fakih 2005).

Pada era Orde Baru, museum tumbuh semakin pesat, terutama museum dan monumen bercorak militer dalam tema sejarah-perjuangan (Marsanto 2008; McGregor 2002) dan juga pemberontakan (Roosa 2008). Contohnya, Monumen Jogja Kembali (Monjali) di Yogyakarta dengan desain menyerupai tumpeng, monumen ini dibangun sebagai simbol kemenangan atas Belanda di masa Perang Kemerdekaan tahun 1949. Lewat Monjali, kontribusi Suharto sebagai komandan Serangan Satu Maret 1949 ketika itu diklaim melebihi peran Sri Sultan HB IX (Ahimsa-Putra 2001).

Di sisi lain, kemunculan museum kebudayaan pun tidak kalah banyak, dan yang paling menonjol adalah dibangunnya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 1970an atas prakarsa Ibu Tien Suharto. Dengan dibangunnya TMII representasi seluruh kebhinnekaan budaya di Indonesia dibayangkan dapat hadir di satu tempat melalui replika visual-material kebudayaan berbagai sukubangsa (Pemberton 2006).

Lain halnya kala rezim Orde Baru jatuh. Museum-museum sejarah-perjuangan dan kebudayaan kurang terdengar gaungnya. Negara menjadi kurang berkepentingan mengangkat narasi tentang (ke)Indonesia(an) melalui museum. Negara terlalu sibuk dengan isyu lain dan urusan politik praktis. Sebab itu, sepintas museum yang eksis belakangan ini justru museum-museum swasta, seperti Museum Seni Rupa Oei Hong Djien di Magelang, Museum Rekor Indonesia di Semarang, Museum Komik di Bali, atau Museum Ullèn Sentalu di Yogyakarta.

Gejala ini menunjukkan bahwa museum tidak lagi dipandang sebagai sebuah jalan untuk mendefinisikan nasionalisme atau budaya nasional seperti yang dilakukan rezim Orde Baru. Museum dibiarkan tumbuh dalam aras lokal (c.f. Susanto S.J. 2010). Dengan demikian, arah perkembangan museum di Indonesia pun agaknya ditentukan oleh rezim negara.

Singkat kata, sejarah permuseuman di Indonesia sebetulnya relatif panjang dan tidak linier. Kendati demikian, uraian di atas kiranya cukup memberi gambaran mengenai konteks permuseuman di Indonesia.

# II 

Dengan sejumlah persoalan yang menyelimuti jagad permuseuman Indonesia dewasa ini, pertanyaannya kemudian: bagaimana metode untuk mewacanakan (mengingatkan) kembali tema-tema yang selama ini “membeku” di museum kepada publik, sehingga dalam strategi tertentu museum mampu bertahan di tengah minimnya dana pengembangan dan perubahan zaman yang pesat.

Di sini, kita harus melihat kembali fakta bahwa beragamnya museum di Indonesia sebetulnya menyimpan sejumlah problem lain yang juga erat kaitannya dengan soal di atas, yaitu sejauh mana relevansi museum-museum tersebut bagi kita? Artinya, apakah museum-museum tersebut masih relevan, sementara kini kebutuhan akan pengetahuan tertentu telah tercukupi oleh media informasi berteknologi canggih. Manakala berbagai informasi telah disediakan new media, maka dengan begitu apa gunanya museum bagi kita? Jikalau masih diperlukan, bagaimana menyiasatinya? Inilah hal-hal yang sekiranya perlu ditilik kembali.

Instagram merupakan social media khusus mengunggah foto di telepon seluler. Foto ini merupakan akun Instagram American Museum of Natural History (AMNH), New York City, Amerika Serikat yang diambil dari ponsel.

Dalam konteks fungsi museum, saya menengarai terdapat empat fungsi utama yang semestinya melekat pada museum-museum kita agar mampu berperan sebagai wahana ‘mewacanakan’ sesuatu atau menarasikan pengetahuan tertentu. Keempat fungsi museum tersebut adalah: (1) fungsi edukatif dan akademis; (2) fungsi sosio-kultural; (3) fungsi rekreasi dan ekonomi(-kreatif); dan (4) fungsi politik.

Pertama, fungsi edukatif dan akademis: museum berfungsi sebagai wahana pendidikan, sarana membagi pengetahuan (baik baru maupun lama), dan juga tempat untuk melakukan studi (baca: penelitian). Di sini museum dituntut tidak hanya sebagai sarana pembelajaran publik, namun juga harus mampu menyokong perkembangan ilmu pengetahuan selayaknya pusat studi atau pusat kajian di universitas.

Kedua, fungsi sosio-kultural. Budi Santoso S.J. (2010) secara implisit menyebut bahwa museum dan monumen merupakan media ‘pengingat’ peristiwa yang kita alami (lihat juga Marsanto, 2008). Tanda petik pada term pengingat di situ mengandaikan bahwa masyarakat memang butuh hal-hal untuk diingat: seperti asal-usul budaya, sejarah perjuangan bangsa, dan lain sebagainya, yang salah satu gunanya untuk merefleksikan diri. Atau, dalam bahasa lain, museum untuk media ‘refleksi kebudayaan’.

Ketiga, fungsi rekreasi dan ekonomi(-kreatif). Dalam fungsi ketiga, museum sebagai ruang publik memuat kriteria agar sebisa mungkin menjadi tempat bertamasya bagi masyarakat umum. Selain juga, hal-hal dalam museum mampu memberi inspirasi yang memantik ide-ide baru pada masyarakat yang mendorong tergeraknya aktivitas kreatif. Gagasan ini tidak baru, namun hal ini dapat dicoba penerapannya sebagai ajang promosi museum ke masyarakat sekaligus pembenahan dalam diri museum agar museum mampu menampilkan hal-hal yang lebih atraktif dan menginspirasi publik. Dengan demikian, fungsi ketiga ini sebetulnya terkait erat dengan fungsi edukasi di atas.

Keempat, fungsi politik. Kendati fungsi ini boleh dibilang klasik, seperti yang dilakukan Napoléon Bonaparte pada Musée du Louvre sebelum Revolusi Prancis di akhir abad ke-18. Musée du Louvre merupakan media propaganda sekaligus lambang kedigdayaan imperium Prancis yang ditunjukkan melalui pameran ribuan koleksi benda rampasan di negara-negara yang kalah perang dengan negeri penghasil wine terbesar di dunia ini (Yoshiaki 2001 dalam Marsanto 2008:35).

Museum, dengan demikian, tidak bisa berhenti sebagai institusi edukasi, riset, dan rekreasi, namun juga “politis”. Politis di sini lebih dimengerti sebagai media peneguh identitas bangsa atau kebudayaannya. Dalam misi politik kebudayaan, museum diperlukan untuk melegitimasi atau mengklaim hal-hal ‘pendar’, simpang-siur, dan terlupakan. Sebab, narasi besar tentang identitas biasanya berada di wilayah abu-abu, dialektis, oleh karena itu maka identitas perlu dibentuk dalam wacana yang tegas dan dikukuhkan melalui display dan aktivitas di museum (bandingkan Luke 2002).

Persoalannya sekarang, bagaimana kita dapat mengaplikasikan fungsi-fungsi museum yang demikian banyak tersebut?

Halaman muka Facebook musée du quai Branly Paris, Prancis dan Museum of Anthropology Vancouver, Kanada

# III

Anggapan awam bahwa museum tidak dapat hidup tanpa sokongan dana besar adalah benar, meskipun tidak selamanya tepat. Tidak hanya sisi pendanaan yang harus menjadi perhatian, namun yang lebih penting bagaimana kita dapat menghadirkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul untuk bekerja di museum. Sebab, dalam meningkatkan kualitas museum, SDM adalah aspek vital bagi keberlangsungan museum, dan ini merupakan titik lemah dari kebanyakan museum di Indonesia.

Maka dari itu, museum tidak bisa berpangku tangan menunggu keajaiban. Jika tidak, maka hal-hal yang dipamerkan dalam museum tidak akan ramai dibicarakan dan menjadi wacana publik seperti laiknya museum di ‘Barat’, melainkan terbatas pada diskursus di kalangan akademik dan aktivis museum.

Mengingat empat fungsi museum di atas, kiranya dalam mengelola museum mau tidak mau juga harus menyesuaikan dengan konteks zaman. Jangan dikira, museum-museum di Eropa dan Amerika Serikat dapat eksis tanpa persoalan. Sama saja. Mereka terengah-engah, seperti MuseumVatican di Italia, Museum für Völkerkunde di Dresden Jerman, dan museum etnologi Tropenmuseum di Amsterdam Belanda yang legendaris itu (Kompas 17/10/2011).

Museum terancam gulung tikar lantaran krisis finansial untuk operasional museum. Museum di Eropa dihantui kebangkrutan akibat dana penyokong dipangkas besar-besaran. Beberapa museum yang tadinya berdiri dengan manajemen masing-masing, kini disatupayungkan. Lantas, apa langkah untuk menyiasati persoalan ini? Siasat konkretnya, sebagai pengelola museum harus secara kreatif mengembangkan program-program jitu.

Dalam konteks masyarakat yang serba terjalin satu dengan yang lain di belahan dunia manapun, terdapat satu metode yang strategis untuk menggairahkan museum, yaitu social media. Sosial media dimengerti sebagai sarana berkomunikasi antarkalangan, baik individu maupun komunitas, melalui jejaring dunia maya. Tidak dapat dimungkiri bahwa keseharian kita dipenuhi dengan hal-hal semacam ini, dan suka tidak suka, kita harus mulai mengikuti zaman nirbatas semacam itu.

Sebagai contoh, kini museum-museum di Singapura, China, Amerika Serikat, dan Eropa mengandalkan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram untuk ‘memperbincangkan’ pamerannya—dengan teks dan gambar-gambar menarik, begitu pula dengan aplikasi pada telepon selular pintar (smart phone), baik Android maupun iPhone. Ekspektasi dari perjumpaan antara museum dan publik di sosial media semacam ini adalah intensitas sekaligus interaktif. Siapa saja dapat terlibat berdialog dalam topik yang diangkat, hal-hal yang dipamerkan secara virtual, dan siapapun dapat dengan mudah mendapat informasi akurat dalam waktu singkat.

Untuk pihak museum, metode ini efisien dan efektif, lantaran dana yang digelontorkan relatif minim untuk sebuah aktivitas interaksi dan daya jangkau ketersebaran informasi. Pendek kata, koleksi museum harus diwacanakan melalui cerita-cerita yang dikemas dalam foto-foto, video klip, dan kalimat pendek yang merarik, persuasif, maupun kontroversial sehingga memancing obrolan, memantik diskusi. Dengan cara ini, koleksi museum lantas tidak mati, dan dapat hidup dalam wacana yang direproduksi publik secara kontinyu.

 # IV

Esai ini sesungguhnya hanya ingin merefleksikan: masih pentingkah museum untuk Indonesia, dengan sejumlah persoalan yang selama ini nampaknya kurang bisa diatasi dengan baik, terutama oleh Pemerintah. Mendorong munculnya gerakan-gerakan dari kalangan non-pemerintah untuk mencoba mengelola museum dengan cara baru dan lebih kreatif sekaligus kontekstual dengan semangat zaman tidaklah mudah. Namun hal ini patut dicoba agar kita tidak serta-merta lepas tangan dari segala problematika museum di Indonesia yang sulit dipecahkan.

Yang pokok adalah bagaimana museum di Indonesia dengan segala isi dan temanya dapat diperbincangkan kembali secara riuh di tengah keseharian kita, diwacanakan dalam obrolan interaktif di social media—sebagaimana dicontohkan di atas, sehingga museum tetap eksis dalam pengertian mampu menjalin interaksi yang intens antara pengelola (baca: museum) dan publik (masyarakat luas). []

Khidir Marsanto P., Mahasiswa Pascasarjana Antropologi UGM

*Esai ini diterbitkan di Majalah Basis, Nomor 07-08, Tahun ke-61, 2012 http://www.majalahbasis.com/artikeldetail.php?id=106

Pustaka Acuan

Ahimsa-Putra, Heddy Shri. 2001. “Remembering, Misremembering and Forgetting: The Struggle over ‘Serangan Oemoem 1 Maret 1949’ in Yogyakarta, Indonesia“, Asian Journal of Social Science, Vol. 29, No. 3. Hlm. 471–494.

Erkelens, Jaap. 2001. Java-Instituut dalam Foto. Jakarta: KITLV dan Museum Sonobudoyo Yogyakarta.

Fakih, Farabi. 2005. Membayangkan Ibu Kota: Jakarta di Bawah Soekarno. Yogyakarta: Penerbit Ombak.

Gouda, Frances. 2007. Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial Hindia Belanda, 1900-1942. (terj.). Jakarta: Serambi.

Kompas. 2011. “Tropenmuseum Bakal Tutup”, Senin 17 Oktober 2011. Artikel diunduh di http://internasional.kompas.com/read/2011/10/17/17284089/Tropenmuseum.Bakal.Tutup, pada 24 November 2011.

Lidchi, Henrietta. 1997. “The Poetics and The Politics of Exhibiting Other Cultures”, dalam Stuart Hall (ed.). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices, hlm. 151–208. London: Sage Publications.

Luke, Timothy W. 2002. Museum Politics: Power Plays at the Exhibition. Mineapolis: University of Minnesota Press.

Marsanto, Khidir. 2008. Gedung-gedung Berceritera: Sejarah, Klasifikasi, dan Politik Representasi Enam Museum di Yogyakarta. Skripsi sarjana di Jurusan Antropologi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Januari.

McGregor, Katharine E. 2002. Claiming History: Military Representations of the Indonesian Past in Museums, Monuments and Other Sources of Official History from Late Guided Democracy to the New Order. Disertasi doktoral di Jurusan Sejarah, The University of Melbourne, Australia. Maret.

Pemberton, John. 2003. On The Subject of  “Java”. (terj.). Yogyakarta: MataBangsa.

Roosa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto. Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra.

Santoso S.J., Budi. 2010. “Memandang(i) Indonesia”, awal kata-kata dalam Indonesia Dimata(mata-i) Post Kolonialitas, Budi Susanto S.J. (ed.). hlm. 9–32. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

One thought on “Revitalisasi Museum: memecah persoalan museum di Indonesia*

  1. Tulisan yang sangat informatif. Mari kita memajukan permuseuman di Indonesia

    Posted by Titing Kartika | December 4, 2012, 4:06 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s