//
you're reading...
antropologi, tentang buku, tentang etnisitas, tentang ilmu sosial, tentang kota, tentang sejarah

Konstruksi Identitas Nasional Dalam Foto-foto Populer di Jawa: Tinjauan Buku “Refracted Visions”

Image

Membaca buku Karen Strassler berjudul Refracted Visions: Popular Photography and National Modernity in Java adalah sebuah tamasya intelektual yang menyenangkan, sekaligus mencengangkan. Mengapa? Dalam buku yang dikembangkan dari disertasinya pada 2003 di University of Michigan ini kita ditawarkan sebuah corak etnografi yang agaknya masih kurang populer di kalangan antropologi Indonesia, yang sangat berbeda misalnya dengan corak etnografi a la Prof. Koentjaraningrat. Melalui buku ini, kita disadarkan bahwa kini perkembangan literatur antropologi (baca: etnografi) sangat beragam, mulai cara penyajian, gaya berceritera, hingga perspektif yang dipakai. Strassler menyodorkan argumen di bukunya bahwa fotografi memuat informasi tertentu yang menandai banyak hal atau foto menjadi petanda atas petanda yang lain.

Sehubungan dengan hal itu, tulisan ini tidak hanya ditujukan untuk mengulas secara ringkas substansi dalam Refracted Visions semata. Melainkan, juga hendak mendiskusikan perspektif yang digunakan Strassler dalam bukunya untuk menganalisis sejarah (kemunculan) foto populer[1] serta relasi foto populer tersebut dengan wacana identitas yang ‘hidup’ di sekitar foto-foto, atau di kala foto-foto tersebut diproduksi. Foto-foto ini juga merupakan bagian dari imajinasi (cita-cita) modernitas dalam diri masyarakat Jawa dan Cina pascakolonial sekaligus adakalanya foto-foto itu menandai ingatan nasional peristiwa-peristiwa pasca-Reformasi di Indonesia.

Strassler membuka buku ini (dalam Preface) dengan sedikit menyitir kisah Minke dalam novel Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer. Tokoh Minke adalah ‘wakil’ dari pemuda Jawa terdidik pada umumnya kala itu yang menganggap fotografi adalah simbol dari kehebatan modernitas. ”To Minke’s naïve eyes, as he soaks up the novelties of his Dutch colonial education, photographic technology emblematizes the marvels of modernity itlself.” Di mata Minke, fotografi merepresentasikan terbukanya sebuah dunia baru, melambangkan (emblematize) dunia yang mampu melampaui batas-batas geografis dan sosio-kultural.

Strassler mengatakan bahwa dari tokoh Minke, kita memahami bahwa “that photographic images operate in different registers, circulating in the public sphere as political symbols while also mediating an intimate realm of personal affiliations, memories, and sentiments”. Dengan kata lain, di paruh pertama abad ke-20 orang Indonesia sedang mencari jati diri untuk menjadi sebuah nasion, manusia Indonesia membayangkan bahwa dengan fotografi mereka dapat menjadi alasan bagi diri mereka untuk ‘populer’ atau dikenal tidak hanya di kalangan mereka di Jawa tetapi juga di Indonesia pada umumnya.

Buku ini disajikan ke dalam enam bagian (bab) dengan dua bagian sebagai pendahuluan dan epilog. Masing-masing bagian mengulas tema fotografi yang ada di beberapa lapisan masyarakat di Jawa. Untuk kerangka teori, Strassler menyajikan dengan padat di bagian pendahuluan. Di pendahuluan inilah kita dapat mengidentifikasi perspektif pascamodern yang dipakai Strassler sebagai pisau analisis.

Untuk memasuki tema imajinasi nasionalisme Indonesia dan identitas keindonesiaan, Strassler berangkat dari pertanyaan “how does this technological training of the sense take places?” (hlm. 18). Dari pertanyaan ini, Strassler membagi bahasannya ke dalam enam bab yang ia kelompokkan berdasarkan genre-genre foto.  Enam genre yang diulas dalam Refracted Visions adalah amateur photography, studio portraiture, identity photographs, family ritual photography, student photographs of demonstrations, dan photographs of charismatic political figures (hlm.18).

Strassler mengandaikan bahwa dari tiap genre tersebut kita dapat menggali perbedaan “visualities”-nya, atau dalam bahasa John Berger adalah “ways of seeing”. Argumennya adalah,“photographic genres are sets of social practices, aesthetic conventions, and ‘semiotic ideologies’ that condition how people make and make sense of photographic images”. Kita lihat, mengikuti argumen Strassler, dalam berbagai jenis fotografi tidak hanya menjadi bagian dari keseharian hidup manusia dengan kesepakatan estetis tertentu. Namun juga, fotografi berfungsi sebagai “semiotic ideologies” yang di dalamnya menyimpan asumsi-asumsi tertentu mengenai apa/siapa yang menjadi petanda dan tinanda di situ, dan sejauh mana representasi simbolis (materi visual) tersebut berfungsi atau ‘beroperasi’—sebagaimana disebut Strassler dalam catatan kakinya (hlm. 307).

Perspektif pascastruktural sebetulnya mulai nampak sejak bagian pertama buku ini, ketika ia mengisahkan pengalaman Ibu Soekilah. Ketika di Yogyakarta, Strassler cukup banyak menghabiskan sorenya dengan Ibu Soekilah di rumahnya, dan melalui obrolan ringan Ibu Soekilah menceriterakan masa lalunya lewat album foto yang ia miliki. Foto-foto tersebut tidak hanya menandai siapa yang ada dalam foto-foto itu, Ibu Soekilah dan keluarganya, tetapi juga konteksnya, yaitu kisah-kisah perjalanan hidup, cinta, dan bundelan kenangan lain Ibu Soekilah, seperti bagaimana ia menyelinap keluar rumah agar berkesempatan berfoto dengan kekasihnya di studio foto milik orang Tionghoa. Kisah-kisah ini terkuak melalui obrolan yang ‘dimediasi’ oleh materi visual dalam album foto  tersebut. Dengan demikian, album foto menjadi seuntai teks yang “berbicara” mengenai sejarah Ibu Soekilah. Foto (teks) menjadi petanda bagi zaman kala foto tersebut dibuat (konteks).

Pada bab pertama, “Amateur Visions”, Strassler berbicara mengenai peran para fotografer amatir di masa kolonial dan pascakolonial yang membentuk imajinasi kolektif (collective visions) pada masyarakat Jawa dan juga Tionghoa tentang identitas keindonesiaan secara visual. Dari para fotografer amatir, yang hampir semuanya merupakan orang Tionghoa (totok dan peranakan), inilah bagi Strassler yang jelas-jelas berjasa dalam merekam jejak masyarakat Indonesia kala itu (hlm. 14).

Di bab kedua, “Landscape of the Imaginations”, Strassler melanjutkan diskusinya mengenai bagaimana backdrop dan atribut atau asesori yang dipakai pelanggan untuk berfoto dalam studio fotografi erat kaitannya dengan ‘cita-cita’ citra orang dalam foto. Kata Strassler, penampilan mereka dalam pose-pose foto di studio pada 1960an dan 1970an terasa tidak lengkap tanpa perangkat asesori yang menyimbolkan ikon-ikon modernitas, seperti televisi, kamera, sepeda, dan Vespa. Kenyataan ini dapat merefleksikan bagaimana hasrat (mungkin aspirasi) orang Jawa untuk berpartisipasi ke dalam ruang gerak global pasca-Perang Dunia II kala itu, yang menitikberatkan kehidupan pada economic progress and wealth. Melalui foto-foto ini, Strassler menafsirkan zaman itu bahwa dengan adanya kecenderungan semacam itu maka fotografi mampu menjembatani mereka sebagai orang Indonesia untuk terlibat merasakan impian yang ditawarkan era modern a la “Barat”. Hal ini disinggung sedikit pada bagian Introduction, “photography served as an important medium enabling people to try on and imagine new ‘modern’ Indonesian appearances” (hlm 7-8). Sementara, pada tiga bab berikutnya, yaitu Identifying Citizens, Family Documentation, dan Witnessing History, Strassler membicarakan bagaimana rezim Orde Baru memperlakukan foto sebagai media untuk mengontrol gerak-gerik masyarakat. Fotografi kemudian secara tidak langsung digunakan sebagai media perlawanan, sarana untuk melontarkan kritik dan menyaksikan kembali bagaimana negara menanggalkan sisi kemanusiaannya pada para demonstran yang notabene adalah putra bangsanya sendiri.

Sedari awal, Strassler mencatat dalam Refracted Visions bahwa tujuan pokok menulis buku ini adalah untuk “understand the ways that photography has shaped the envisioning of ‘Indonesia’ and ‘Indonesians’ in postcolonial Java” (hlm. 11). Melalui analisis fotografi yang detail dan mendalam pada di mana fotografi itu dibuat, penampilan atau pose-pose subjek, cara foto itu dikoleksi, dan dipajang oleh individu-individu seperti Ibu Soekilah dan Noorman, Strassler mampu menunjukkan bahwa foto sebetulnya menggiring orang untuk menerjemahkan seperti apa imajinasi diri mereka, baik sebagai bagian dari bangsa Indonesia dan juga lingkungan (baca: kebudayaan) tempat di mana mereka tinggal.

Dengan jalan membenturkan antara tradisi dan modern, realitas dan mimpi, serta ruang-ruang nyata dan imajiner, popular photography lantas menyediakan bagi subjek-subjek poskolonial Jawa untuk menciptakan identitas versi diri mereka sendiri dan tentu saja identitas diri mereka tentang bangsa Indonesia. Akhirnya, Strassler menyimpulkan bahwa identitas tentang keindonesiaan (Jawa menuju Indonesia, misalnya) tidak serta-merta dinyatakan tetap, statis, dan pasif, melainkan dalam masyarakat ia hidup dinamis dan tidak berhenti proses pencariannya. Dengan demikian, melalui kasus fotografi yang ditunjukkan Strassler bahwa antara bayangan dan kesadaran tentang identitas bangsa Indonesia ternyata bergerak terus atau berdialektika dalam diri masing-masing subyek yang dimediasi dan direpresentasikan oleh foto-foto. []

Daftar Pustaka

Strassler, Karen. 2010. Refracted Vision: Popular Photography and National Modernity in Java. London: Duke University Press.


[1] Term popular photography secara konseptual agaknya tidak mudah dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Namun, popular photography agaknya bisa diterjemahkan secara common sense sebagai ‘foto populer’ atau foto yang biasanya kita miliki sebagai media mendokumentasikan diri dan peristiwa yang kita alami yang tidak difungsikan sebagai foto komersil (foto iklan produk misalnya) dan foto seni.

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

7 thoughts on “Konstruksi Identitas Nasional Dalam Foto-foto Populer di Jawa: Tinjauan Buku “Refracted Visions”

  1. Terima kasih atas resensi bukunya mas, kebetulan saya lagi tertarik mencari buku ini juga. Apa bisa ditemukan di toko buku besar di sini ya?

    Posted by Kurniadi Widodo | August 29, 2012, 5:40 am
  2. melu download ya mas.. nuwun infonya. salam

    Posted by Vembri Waluyas | October 5, 2012, 8:03 am
  3. Nice Posting..Lanjutkan🙂

    Posted by etnofotografiub | November 14, 2012, 5:07 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s