//
you're reading...
ceritera dan mitos, serba-serbi

TANDA TANGAN

oleh Lukman Solihin

Image

Sore hampir habis saat selembar kertas menghampiri mejanya. Semburat jingga yang menerobos masuk melalui kisi-kisi jendela memantulkan angka-angka yang tercetak di kertas itu. Tulisannya baru saja kering, baru dicetak dari mesin tinta di ruang sebelah tempat duduknya.

Jam dinding yang dipercepat barang seperempat jam terkesan mengusirnya dari tempat itu. Tapi ia bergeming. Kertas berkop itu menahannya untuk pulang.

Jumlahnya tak sedikit. Kalau betul ia memperoleh sejumlah itu, aih, alangkah bahagianya. Bakal senang nanti si Jumali, anak bungsunya, karena akan memperoleh sepeda baru yang sudah seminggu membuat pusing kepalanya.

Anak itu memang manja, segala yang dilihatnya dari anak tetangga, akan dipintanya pula pada bapaknya.

Tidak. Bukan hanya sepeda. Ia berpikir pula untuk membelikan alat pengering rambut buat istrinya. Ia tak suka melihat istrinya berlama-lama dengan rambutnya yang setengah basah habis keramas. Lepek. Seperti menunjukkan kalau malam tadi sedang ada lembur barang setengah jam. Ia selalu malu kalau membayangkan istrinya berangkat kerja ke pabrik dengan rambut macam itu. Pasti sekuriti akan menggoda istrinya lagi, “Habis malam Jumatan ya?”

Jancuk!

Kalau ada kesempatan, pasti ia akan mengumpat di depan sekuriti tambun itu. Duel boleh juga. Mulut kurang ajar itu sekali-sekali boleh dikasih pelajaran! Apa urusannya rambut basah dengan mulutnya yang monyong itu?! Ia puas membayangkan sekuriti tambun itu bisa ditendang selangkangannya, ditempeleng bibirnya, ditonyor matanya!

Fuh.

Ia menatap lagi deretan angka-angka itu. Dahinya berkeringat gara-gara membayangkan perkelahian tadi. Pendingin di ruangan ini lebih sering seperti kipas angin. Hanya menyemburkan angin yang kadang terasa hangat karena mesinnya tak tahan didera panas di luar gedung. Sudah sebulanan ini tukang AC tak datang menyuntikkan freon.

Senja makin gelap. Ruang sebelah telah kosong sejak setengah jam yang lalu. Empat pegawai telah lebih dulu pulang.

Di ruangan ini ia bekerja sendirian. Mengangkat telepon, membubuhkan catatan di papan putih, juga membuatkan kopi. Tugas membuatkan kopi itu sebetulnya bukan pekerjaannya. Bukankah ada rewangyang digaji honorer di kantor ini? Tapi, bosnya yang setiap hari datang pukul setengah sebelas untuk menghindari three in one, kerap menagih kopi panas. Dan titah itu selalu tertuju padanya.

Dua sendok kopi dengan setengah sendok gula. Diseduh dengan air mendidih dari dispenser di sudut ruangan. Warna lampunya harus kuning, kata bosnya, karena itu menunjukkan airnya betul-betul mendidih.

Bosnya memang aneh. Apa enaknya kopi yang dibikin dengan tanpa rasa cinta? Ataukah wajahnya yang kerap murung itu memang selalu menyediakan tempat untuk kebencian, sehingga kopi yang dibuat dengan rasa canggung dan kemalasan menjadi hal ternikmat yang dia rasakan?

Tapi sepertinya bosnya cukup menikmati ketertindasan ini. Mungkin dia tak sedang menikmati kopi yang dibuat dengan ketakrelaan. Dia hanya menikmati caranya menindas bawahan!

Cuh.

Kecamuk pikirannya membuat hidungnya mengendus aroma kafein yang memantik mual. Ia mengumpat dalam hati. Semoga si bos lekas terkena serangan jantung, pembusukan ginjal, atau liver!

Matahari mulai menghilang di balik gedung-gedung di ujung barat. Ia meletakkan kertas itu setelah mendengar bunyi mesin faks menyala. Sigap ia menyambar kiriman faks itu. Mesin faks berderit seperti lincak di rumah kontrakannya.

Ah, alangkah nikmatnya berlembur bersama istrinya di atas dipan baru. Bukan lincak kayu beralas bambu yang dibalut  kasur kapuk kumal. Ia sering menyaksikan dipan-dipan berwana putih bersih yang di pajang di teras toko seperti merayunya untuk membeli. Alangkah empuknya. Betapa nikmatnya.

Ia menelan ludah.

Kiriman faks itu berlembar-lembar, berisi proposal permintaan bantuan dana. Sebuah perhelatan kesenian memerlukan biaya yang cukup besar. Kantornya memang banyak menerima proposal macam ini. Biasanya di awal tahun. Tapi tak satu pun yang mendapatkan bantuan. Dana bantuan tidak ada dalam anggaran, begitu bunyi surat balasan yang kerap ia kirim melalui mesin faks.

Ia membayangkan penerima surat akan mengumpat membaca balasan itu. Alasan jadul. Klise. Tapi yang jadul selalu saja muncul dalam surat-surat yang ia kirim.

Kepada Yang Terhormat… Kami beritahukan bahwa… Sehubungan dengan hal itu… Adapun… Pembiayaan kegiatan tidak ada dalam anggaran… Demikian… terima kasih.

Kalimat-kalimat itu seperti Bosnya. Kaku. Tidak luwes. Basa-basi dan omong kosong!

Perutnya ikutan protes dan terdengar mendesis seperti mengerang meminta makan. Ia ambil sepotong donat yang menjadi konsumsi rapat tadi siang.

Ia mengunyah dengan rasa getir.

Anggaran; dana; biaya; ongkos; belanja; pengeluaran.

Semuanya tentang uang. Dan di depannya kini angka-angka itu seperti menjelma gambar tentara yang memakai peci. Atau dua tokoh yang kerap muncul gambarnya di hari tujuhbelasan. Pasti dompetnya tak akan mampu menampung uang sebanyak itu. Ia meraba dompetnya, lalu teringat di dalamnya hanya ada beberapa lembar uang bergambar sesosok garang yang memamerkan golok tajam dan beberapa lembar lelaki bersorban.

Roti hambar yang sudah lumat itu masuk ke kerongkongan didesak beberapa teguk air mineral. Lambungnya kini terganjal gumpalan-gumpalan menjijikkan itu. Kembali ia menekuri selembar kertas itu. Di atasnya harus segera dibubuhkan tandatangan. Tepat di atas namanya.

Markasan.

Diejanya lagi nama yang telah lama akrab di telinganya itu. Ia jadi terbayang sosok bapaknya. Lelaki sepuh yang hidup hanya dengan dua petak sawah di kampungnya. Dia tak pernah mau diajak pindah ke Jakarta, meskipun kini tak ada lagi sanak saudara yang mendampinginya. Kampung selalu meninggalkan kenangan. Ada almarhumah ibu, sawah, juga perkutut. Bapaknya enggan jauh dari kenangan-kenangan itu. Dan sepertinya bapaknya tahu belaka bahwa usianya tak bakal lama, setelah sekian lama tubuhnya mengurus digerogoti asma.

Manusia hidup karena memang harus hidup. Dan mati karena memang harus mati. Kerjakan saja yang menjadi bagianmu, selebihnya urusan Tuhan. Jangan mengganggu atau merugikan makhluk lain…

Kini, di belantara Jakarta, terasa sekali bahwa prinsip Bapaknya itu sudah sangat usang. Apa yang bisa didapat jika hanya mengandalkan usaha sederhana dan biasa-biasa saja tanpa nafsu untuk mengungguli orang lain? Bahkan di jalanan saja, ia harus cekatan menyerobot jalur orang untuk menjadi “yang terdepan” seperti di iklan-iklan motor itu.

Dan, sejauh ini ia hanya mampu menang di jalanan. Di kantor ini, tetaplah ia kaum pesuruh. Bukan pemberi perintah, tetapi yang terperintah.

Ia meresapi kembali prinsip Bapaknya. Sekonyong-konyong berkelebat dukungan-dukungan untuk menuntaskan tanggungan di mejanya itu. Ya, hanya tandatangan. Tidak mengganggu atau merugikan orang lain. Dan inilah memang bagiannya: membubuhkan tandatangan. Dengan begitu, besok pagi ia akan dipanggil oleh bendahara dan bisa pulang dengan membawa sebuku uang, masih diikat dengan kertas berlambang sebuah bank.

Dan ia tak mencuri. Sama sekali tidak. Ia hanya membubuhkan tandatangan seperti staf yang lain juga. Dan bukan hanya kali ini ia menuliskan tandatangan. Sudah puluhan, mungkin ratusan kali, ia membubuhkan tandatangan. Tapi bedanya, semua kertas yang ia tandatangani bukan namanya. Ia hanya pengrajin tandatangan, seorang kerani rendahan yang memiliki kepandaian menjiplak tandatangan!

Tapi ia tak pernah menerima persenan dari kepandaiannya itu. Sekali-sekali pernah juga ia berpikir, seandainya angka-angka di atas kertas itu betul-betul untuknya. Seandainya nama yang tercetak di situ benar-benar namanya. Atau paling tidak, bosnya mau tahu diri sedikit membagi rejeki barang beberapa persen dari angka itu. Tapi tak pernah. Dan ia tak juga berani meminta pada Bosnya. Tentu ia juga sadar kedudukannya yang hanya menjadi perkakas di kantor ini, yang kepandaiannya hanya dibutuhkan saat diperlukan.

Tapi, ia pernah menolak untuk membubuhkan tandatangan di atas nama seorang profesor. Namanya dicatut sebagai anggota tim pelaksana sebuah kegiatan. Ada beberapa lembar kwitansi untuk tiket pesawat, uang penginapan, dan honor yang harus ia tandatangani. Tandatangannya mudah betul, hanya menggoreskan huruf-huruf mengikuti namanya. Tapi ia tak mampu. Wajah profesor sepuh itu sekejab seperti tergambar dalam kertas itu.

Ia sebetulnya tak pernah kenal dekat. Hanya, beberapa kali profesor itu bertemu dengannya karena ada rapat dengan si bos. Orangnya ramah dan murah senyum. Dan baru kali itu ia berjabat tangan dengan yang namanya profesor. Ia hampir saja mencium tangannya. Ia teringat begitulah cara orang kampung dulu menghormati orang tua, pak guru, kiyai, atau orang pintar.

Bosnya marah besar mengetahui pembangkangannya itu. Hari itu, bukan kopi panas yang diminta si Bos. Tetapi perintah untuk masuk ke ruangannya. Ia diomeli habis-habisan. Katanya, ia tak mengikuti aturan. Dapat membahayakan sistem administrasi yang sudah rapi. Kalau ia menolak, maka uang yang sudah digunakan itu tak dapat dilaporkan.

Kau pikir ini uang siapa? Ini uang negara! Dan kalau kau tak mempertanggung-jawabkannya, harus dikembalikan ke negara!

Bosnya masih saja membentak-bentak dan memukul meja. Ia kalut. Mulutnya tak bisa bersuara.

Si Bos menuduhnya mulai memperhitungkan persenan dari kepandaiannya itu. Ia ditawari beberapa lembar uang, tapi ia menolak. Akhirnya ia takluk dan melakukan perintah bosnya: menandatangani selembar kertas yang bukan namanya.

Dan kini, di atas kertas itu tertulis namanya, bukan nama orang lain.

Ia sudah memutuskan. Diambilnya bolpoin yang menancap di ujung meja. Digoreskannya di atas namanya.

***

Di atas motor ia berdendang perlahan. Menyanyikan lagu anak-anak yang sering ia nyanyikan bersama si Jumali. Ia pun tak mengumpat lagi ketika motornya tersenggol sebuah angkot. Ia tersenyum melambai seolah tak terjadi apa-apa.

Ia kini tak berpikir tentang sepeda, pengering rambut, atau dipan baru. Ia hanya ingin bermain dengan anaknya.

Besok ia tak akan kembali ke kantor itu lagi. Tak akan membuatkan kopi. Dan tak akan menulis tandatangan lagi.

Senayan-Pattimura, 14 Februari 2012

(diambil dari http://www.facebook.com/notes/lukman-solihin/tandatangan/10150592292352615)

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

3 thoughts on “TANDA TANGAN

  1. Inilah gambaran reformasi birokrasi yang digembar-gemborkan oleh pemerintah pusat dalam mengurangi korupsi sampai saati ini. Pertanyaannya, meskipun secara gamblang praktek seperti ini dilakukan tidak ada yang protes bahkan sampai menurunkan sebuah orde, mengapa? padahal jika dihitung secara matematis jelas praktek-praktek tersebut dan semacamnya sudah merugikan negara sampai triliunan rupiah selama kurun waktu satu dasawarsa lebih. hmmm…mungkin yang teriak pada tahun 97-98 sudah menikmati nikmatnya TANDA TANGAN. hahahahaha🙂

    Posted by Setyo Utomo | March 4, 2012, 10:20 am
  2. Untuk kami, para buruh pelaksana, cerita di atas merupakan gambaran yang sangat nyata yang digambarkan dengan sangat nyata pula. Dan sialnya, itu baru satu contoh dari puluhan (atau bahkan ratusan) kisah lain yang tak kalah miris. Kalau beberapa orang mengatakan KKM (Korupsi, Kolusi, Manipulasi) di Indonesia itu mengakar, itu adalah benar. Dari ujung atas pemerintahan, hingga kroco-kroco yang notabene tidak tau dan tidak dapat apa-apa, seringkali berada pada posisi “terpaksa” ikut menjalankan praktek tersebut. Dan itu sungguh membuat saya muak. Namun kenyataan terkadang memang kejam ketika “muak Vs kebutuhan akan pekerjaan” membuat orang-orang kelas kroco tak mampu menolak.

    By the way, tulisan ini bagus banget!! Happy writing Mas Lukman, ditunggu tulisan berikutnya🙂

    Posted by Rani Ariana | March 6, 2012, 2:59 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s