//
you're reading...
serba-serbi, tentang ilmu sosial, tentang kota, tentang museum, tentang sejarah

Rumah Seni Cemeti: From Zero to Hero

 

Pergulatan dan pemberontakan menuju kebaharuan dalam sejarah seni rupa, cepat kembali menjadi kemapanan yang kuno dan usang. Unik dan alternatif pun segera berbalik menjadi mapan seragam.

Begitu jargon Rumah Seni Cemeti (selanjutnya disebut Cemeti) di laman resminya www.cemetiarthouse.com. Jargon ini secara kasat mata, menandakan perubahan paradigma yang dianut oleh Cemeti sebagai salah satu institusi yang bergerak di dunia seni rupa, yang ada di Yogyakarta.

Sebenarnya, paradigma institusi dalam jargon itu bukanlah cara pandang baru, hanya saja ia menyempurnakan paradigma yang pernah diyakini sebelumnya—Cemeti sebagai art gallery biasa. Hal itu satu menifestasi konkret yang mencerminkan pendewasaan serta kematangan dalam diri Cemeti sebagai institusi seni maupun sebagai wadah bagi komunitas seni rupa di Yogyakarta.

Dalam perjalanannya selama kurang lebih 22 tahun, Cemeti telah menyelenggarakan hampir 250 events, baik itu pameran maupun diskusi seni rupa. “Pameran kelompok perdana” yang menampilkan berbagai karya di atas kertas dengan melibatkan Heri Dono, Mella Jaarsma, Eddie Hara, Harry Wahyu, dan juga salah satu pendiri Cemeti Nindityo Adipurnomo, merupakan kali pertama diselenggarakannya pameran di Cemeti pada 31 Januari 1988. Pameran ini berlangsung selama hampir sebulan. Sedangkan pameran lukisan pertama disajikan oleh Mella Jaarsma (isteri Nindityo A), yang mana ini merupakan pameran ketiga yang diselenggarakan.

Hadirnya Cemeti di Yogyakarta menurut Koes Indarto, pengamat seni rupa kontemporer dan redaktur warta seni online www.IndonesiaArtNews.com, “Cemeti memang menjadi salah satu aktor penting dalam perkembangan dan dinamika seni rupa kontemporer di Yogya pada pertengahan 1990-an hingga 8 sampai 10 tahun berikutnya.”

Meski demikian, tentu saja, perjalanan Cemeti tidak melenggang lurus begitu saja. Ia pun mengalami pasang-surut. “Sebagai institusi dan ‘komunitas’, dia telah banyak memberi pemikiran yang relatif baru dalam memandang seni rupa ekstra-konvensional. Tetapi, di sekitar tahun 2005-an debut Cemeti mulai kendur,” lanjut Koes.

Mengendurnya Cemeti dari dunia seni rupa di Yogyakarta maupun nasional ini oleh beberapa orang dililhat sebagai ketidakberdayaan mereka sebagai institusi seni yang menopang banyak harapan dari dunia seni. Lantaran saat itu, menurut Koes, “banyak seniman yang lantas bergerak secara personal, atau beralih ke komunitas lain yang mulai melaju dengan cara pandang yang lebih progresif tanpa melibatkan diri dengan atau bersama Cemeti.”

Involusi yang seperti itu kemudian disadari, dan segera disikapi oleh punggawa-punggawa Cemeti untuk merombak cara pandang atau pendekatan lama Cemeti yang “sekedar” berlaku sebagai wadah penampung dan pemajang karya seni yang ada menjadi sebuah institusi yang lebih segar. Dengan kata lain mulai awal 2010 Cemeti secara resmi berubah orientasi tidak sekadar menjadi ‘ruang pajang’.

Tahun 2010, Cemeti meluncurkan platform pendekatan baru, yang mereka temakan sebagai ‘Seni dan Kemasyarakatan’. Dengan bahasa lain, Cemeti berupaya menghormati ‘proses’ dari pada ‘promosi’ dalam praktik berkesenian. Proses ini juga mengandaikan “mutualisasi dialog yang baru dan segar di antara para kurator, peneliti, artisan, aktivis dan seniman secara lintas disipliner, yang dikemas dalam berbagai rancangan residensi, baik disusun melalui Cemeti maupun dari luar.”

Orientasi baru ini berdampak pada bermetamorfosisnya ruang pameran Rumah Seni Cemeti menjadi studio, ruang lokakarya, diskusi, dan pembelajaran yang kritis dan menyenangkan sekaligus.

Dan dari apa yang dikatakan Koes di atas tentang Cemeti tersebut, mengingatkan saya pada satu gagasan yang muncul dalam diskursus antropologi seni, seperti yang dikatakan Alfred Gell tentang kerja-kerja (karya-karya) dan institusi seni rupa, bahwa mereka itu tidak “berdiri sendiri”, melainkan ia hampir selalu berada dalam konteks relasi sosial tertentu (Art and Agency: An Anthropological Theory, 1998:3-7).

Melihat pengalaman Cemeti di atas, institusi dalam dunia seni rupa tidak akan ada artinya ketika tidak muncul atau menjalin pemaknaan-pemaknaan baru (atau yang diusahakan selalu baru) dari kalangan di dunia seni. Dan seperti yang Gell katakan, suatu karya seni tidak mempunyai nilai estetis apapun yang sifatnya “terberi” atau bawaan dari karya seni tersebut, melainkan nilai-nilai estetik pada karya seni itu lahir lantaran nilai-nilai yang dibangun dari luar yang kemudian dilekatkan pada suatu karya seni tertentu.

Bahwa nilai estetis itu berada di luar sana, dari (sebagian) orang-orang yang menyaksikannya, dan kemudian memberi penilaian terhadap karya seni tersebut. “Wow, ini karya bagus, mengagumkan. Karya seniman brilian, jenius. Ini karya bernilai ekonomi tinggi,” misalkan saja ada seorang kuraktor atau kolektor berujar demikian terhadap suatu karya seni.

Sehingga, dari sini muncul berbagai predikat-predikat (seperti bagus, jelek, menarik, baru, lawas, dahsyat, dst.) pada suatu karya seni. Nah, predikat-predikat tersebut tak akan ada tanpa peran dari induvidu-individu tertentu dan juga institusi seni, dan di sini Rumah Cemeti dengan orientasi dan paradigma barunya menemukan peran sentral atau sumbangsihnya terhadap pemaknaan dalam dunia seni rupa di masa ini, juga masa-masa mendatang. []

Khidir Marsanto P., alumnus Antropologi UGM

[1]Esai ini dipersembahkan untuk 10 Tahun RuangRupa, Desember 2010 lalu, yang mengangkat tema “Expanding the Space & Public”.

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

One thought on “Rumah Seni Cemeti: From Zero to Hero

  1. i like this “esai”

    Posted by R-Zal | July 8, 2011, 9:32 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s