//
you're reading...
antropologi, serba-serbi

Soal Seni Pertunjukan Tradisi

Dewasa ini, ketika mendiskusikan persoalan seni pertunjukan tradisi, maka hampir orang-orang tidak menafikan pengaruh globalisasi. Artinya, di situ globalisasi merupakan subyek aktif yang mempengaruhi hal-hal yang ada di sekitarnya, atau hal-hal yang berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan manusia. Di samping itu, kita juga harus menyadari bahwa selain membawa dampak tertentu, utamanya pengaruh globalisasi terhadap seni pertunjukan tradisi. Oleh karena itu, fakta bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang beragam dengan keunikan dan kekhasannya masing-masing, dan kesenian merupakan simbol bagi identitas bangsa Indonesia perlu dilihat kembali ketika diletakkan dalam relasinya dengan globalisasi. Berkenaan dengan hal itulah maka revitalisasi seni pertunjukan tradisi diperlukan sebagai modal dasar dan kekuatan bagi peneguhan jati diri bangsa di hadapan bangsa lain.

Kendati demikian, tampaknya dewasa ini dunia seni pertunjukan tradisi kita dihadapkan pada persoalan-persoalan riil yang belum sepenuhnya dapat terjawab atau terselesaikan dengan baik. Persoalan-persoalan tersebut antara lain: pertama, belum teridentifikasi dengan baik berbagai masalah riil yang dihadapi oleh para pelaku seni pertunjukan tradisi di Indonesia. Kalaupun ada, informasi-informasi itu masih berserakan dan belum tersusun dengan baik, rapi, serta terpadu. Misalnya, informasi mengenai problem seni pertunjukan tradisi di Indonesia yang dibundel dalam satu laporan penelitian atau survei. Kedua, oleh karena minimnya informasi yang lengkap itu, maka problem lain seperti bagaimana seharusnya pemerintah memfasilitasi dan memberi ruang bagi pengembangan program bagi para pelaku seni pertunjukan tradisi juga kurang dapat terpecahkan. Belum lagi mengenai pertanyaan bagaimana kemudian stakeholders dapat berperan untuk, sebagai contoh nyata, mengembangkan seni pertunjukan tradisi demi kepentingan industri budaya dan/atau pariwisata di Indonesia.

Kondisi seperti itu sangat dimungkinkan terjadi lantaran adanya ber-bagai permasalahan yang ada dalam perkembangan seni pertunjukan tradisi itu sendiri, baik yang disebabkan oleh kelesuan para pelaku seni itu sendiri, kekurang-pedulian masyarakat dalam mendukung perkembangan seni pertunjukan tradisi, kurangnya wadah untuk mengekspresikan dan mengembangkan karya-karya seni pertunjukan tradisional, hingga kurang tepatnya program-program yang dilakukan, baik oleh Pemerintah pusat maupun daerah.

++

Melanjutkan uraian di atas, kita harus akui bahwa anggapan tentang kemerosotan minat terhadap seni pertunjukan tradisi di Indonesia kiranya membuat kita menghadapi beberapa tantangan. Namun sebelumnya itu, kita dapat melihat dulu setidaknya apa persoalan mendasar di sini yang seolah tidak pernah bisa terjawab. Mencoba merunut persoalan dengan mengikuti penjelasan Ahimsa-Putra (2003) dalam makalahnya Ethnoart: Fenomenologi Seni untuk Indiginasi Seni, bahwa dalam dunia seni di Indonesia, persoalan riil sedikit tampak dari kajian-kajian yang ada tentang seni musik dan seni tari atau seni pertunjukan lainnya. Beberapa topik kajian yang menarik antara lain adalah tentang ethnoaesthetics atau etnoestetika (Ahimsa-Putra, 2003). Dari kajian-kajian itu, kita dapat menengarai bahwa persoalan pokok dalam seni pertunjukan tradisi terletak pada core dari seni itu sendiri, yaitu nilai estetiknya. Kajian mengenai estetika ini menurut Ahimsa-Putra menarik karena,

”di sini para peneliti mempertanyakan kembali keuniversalan kaidah-kaidah estetika atau patokan-patokan tentang apa yang dianggap sebagai ‘indah’, ‘bagus’, yang berkembang di dunia Barat. Mengapa musik klasik dianggap ‘indah’ di Barat? Namun, mengapa banyak orang di Indonesia yang tidak dapat menikmati musik tersebut? Musik seperti apa yang dianggap ‘indah’, ‘enak’, oleh orang Indonesia? Tarian seperti apa yang dianggap ‘indah’ oleh orang Bali? Mengapa breakdance dari Amerika Serikat pernah ditanggapi secara negatif di Indonesia?” (Ahimsa-Putra, 2003:358-359).

Dalam kutipan itu, kita dapat menafsirkan bahwa menjadi tampak jelas di sana ada masalah mengenai selera bagi peminat atau audiens seni pertunjukan tradisi. Dan selera ini ditentukan oleh berbagai macam faktor, yang salah satunya dipengaruhi oleh media yang dengan perkasanya menebar budaya pop. Seperti misalnya televisi maupun media internet yang kesemuanya itu berkembang sangat pesat dan hadir secara massif di tengah masyarakat kita. Budaya pop di sini kemudian menjadi “lawan” nyata bagi keberlangsungan seni pertunjukan tradisi kita (meskipun pada tataran tertentu media dan budaya pop bisa juga menjadi sahabat yang memberikan manfaat). Kemudian, mengutip kembali pendapat Ahimsa Putra, bahwa dari situ muncul persoalan tentang,“apa itu ‘indah’, ‘enak’, ‘bagus’ untuk menilai karya-karya seni merupakan salah satu persoalan yang paling menarik” (Ahimsa-Putra, 2003:358). Pertanyaan mengenai selera seni yang demikian ini sangat subyektif dan oleh karenanya diperlukan kajian yang “dapat membongkar pandangan-pandangan yang mapan serta merontokkan (muatan-muatan) etnosentrisme dalam penilai (dan penikmat) karya seni yang seringkali tidak disadari kehadirannya” (penambahan dari saya). Dengan demikian, kita mendapati satu hal tantangan sekaligus persoalan tersendiri, yaitu tentang selera masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisi.

Yang kedua, bagi saya adalah persoalan “pengakuan”. Pengakuan yang saya maksud adalah pengakuan terhadap seni pertunjukan tradisi yang (misalnya) selama rezim pemerintah Orde Baru dilarang atau dipandang melenceng dari norma yang berlaku dalam masyarakat sehingga tidak dapat eksis di antara kita. Pasca-Reformasi, seni pertunjukan tradisi yang dulunya dilarang atau ‘disingkirkan’, kini mulai eksis kembali dan hal ini sebenarnya merupakan angin segar bagi perkembangan seni pertunjukan tradisi yang kita miliki. Nilai demokrasi dan multikulturalisme perlahan menjadi patokan yang harus kita anut dalam menyikapi perbedaan seni pertunjukan tradisi di Nusantara.

Berbagai jenis kesenian itu dimiliki oleh ratusan sukubangsa yang hidup di Nusantara, yang secara otomatis juga menjadi milik bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus tidak hanya wajib mengapresiasi dan mengakui keberadaannya, namun sekaligus juga berupaya untuk melestarikannya. Sebagai contoh, seni pertunjukan tradisi yang sempat tersingkirkan dari hadapan kita adalah wayang Potehi dan barongsai. Selama kurang lebih 30 tahun lamanya, kesenian ini dilarang beserta segala bentuk ekspresi budaya Tionghoa melalui Inpres No.14 Tahun 1967. Namun kini, kita bisa saksikan kembali seni pertunjukan tradisi dalam perayaan Imlek atau upacara-upacara keagamaan di kelenteng. Catatan lapangan Marsanto dan Dwirahmi (dalam Saujana Potehi di Semarang, 2010) mengenai dalang wayang Potehi di kota Semarang menunjukkan kepada kita bagaimana sekaratnya kesenian pertunjukan tradisi ini, padahal di satu sisi peminat wayang potehi boleh dibilang relatif banyak.

Contoh lain misalnya dalam satu ulasan Kompas (Sabtu, 24/07/2010) tentang tari ronggeng yang berkembang di Kampung Kalenanyar, daerah selatan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Laiknya tari ronggeng sejenis yang muncul di beberapa daerah di Jawa, seperti misalnya di Banyumas Jawa Tengah, atau tari Cokek di Betawi dengan instrumen musik Gambang Kromongnya, Ronggeng Ciamis ditarikan untuk menyambut tamu atau menghibur kala masyarakat menggelar hajatan tertentu. Tarian ini sempat dianggap “menyimpang” karena elemen ngibing dalam tarian tersebut. Namun kini tarian itu telah dimodifikasi dan kemudian berdamai dengan norma-norma yang berlaku secara umum di masyarakat kekinian sehingga keberadaan tarian itu dapat terus berlangsung.

Nasib serupa juga dialami oleh wayang beber. Salah satu jenis wayang purba ini sebenarnya sangat menarik, karena dalam perspektif seni secara luas wayang ini tidak hanya merupakan seni pertunjukan atau seni pedalangan saja (seperti halnya wayang potehi dan wayang purwa atau wayang kulit), melainkan juga mengandung seni rupa dan seni sastra. Kita dapat saksikan bagaimana wayang beber yang dikelola oleh Komunitas Taman Seni Indonesia (KOTASENI) beberapa waktu lalu sempat dipertunjukkan secara rutin di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Apa yang dilakukan oleh KOTASENI ini sebagai komunitas yang memang merasa perlu melestarikan dan mengenalkan wayang beber kepada generasi muda Indonesia, patut mendapat dukungan secara penuh.

++

Melihat kondisi terkini mengenai seni pertunjukan tradisi di Indonesia sebagaimana diulas secara singkat dalam per contoh di atas, kita bisa melihat bahwa tantangan yang dihadapi setidaknya ada dua.

Pertama, tantangan dari lingkungan seni yang dimaksud ialah bahwa keberadaan seni pertunjukan tradisi tidak sendirian, artinya bahwa di sana juga ada ragam seni yang lain, seperti seni rupa, seni musik, dan jenis seni lain. Seni rupa atau seni rupa kontemporer misalnya yang sedang melesat di beberapa kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan sebagainya, memiliki peminatnya sendiri dan dalam relasinya dengan pasar maka seni rupa pun telah memiliki segmentasi konsumen yang tinggi. Animo masyarakat terhadap seni rupa juga relatif besar, terutama dari kaum muda.

Sementara di lingkungan seni pertunjukan tradisi sendiri memang harus diakui belum seperti seni rupa. Dan ini menjadi tanggungjawab bersama karena setiap jenis kesenian membutuhkan perhatian dari pemerintah dalam mengiringi perkembangannya, baik untuk kemajuan seni itu sendiri maupun dalam konteks industri budaya dan pariwisata atau yang lainnya. Kelompok-kelompok swasta yang menyediakan dana dan pemberdayaan terhadap kelompok seni pertunjukan tradisi, seperti Yayasan Kelola atau yang lain, patut diapresiasi. Dan barangkali, model-model pemberdayaan yang harus dilakukan dapat dipelajari dari mereka (baik individu maupun organisasi), yang terus terjun di lapangan melihat dan menyelesaikan problematika seni pertunjukan tradisional.

Fungsi-fungsi seni pertunjukan tradisi harus dijaga juga. Karena dalam seni tradisi mengisyaratkan setidaknya dua hal, yaitu pertama seni pertunjukan tradisi sebagai identitas sebuah bangsa serta kedua modal sosial, budaya, dan ekonomi. Sebagai identitas ia berlaku sebagai pembeda karakter bangsa dari bangsa lain atau istilah lain adalah sebagai jati diri bangsa. Sementara itu, ketika seni pertunjukan tradisi secara sosial budaya dapat berlaku sebagai media mengerat kesatuan dan pendidikan bangsa. Dan, dari aspek ekonomi seni pertunjukan tradisi merupakan satu bagain unsur dari pembangunan industri budaya dan pariwisata Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan siasat dan strategi khusus untuk saling bekerja sama antara pemerintah dengan individu dan organisasi non-pemerintah untuk mengembangkan dan melestarikan seni pertunjukan tradisi yang kita miliki.

Kedua adalah perkembangan teknologi-informasi dan pesatnya kemajuan media massa. Popularitas sosial media dalam internet seperti Facebook dan Twitter jelas-jelas secara langsung maupun tidak, menyita perhatian sebagian masyarakat kita, dan juga mengubah kultur pada sebagian masyarakat Indonesia. Kecanggihan media massa, seperti sajian-sajian program televisi yang aksesibiltasnya semakin mudah dan murah kemudian menyebabkan sebagian dari kita cenderung lebih memilih duduk di depan televisi, memencet saluran (channel) dan program acara yang diinginkan, dan menikmatinya sepuas kita inginkan, daripada bersusah-payah pergi ke satu tempat seperti gedung pementasan. Di situlah selera masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisi bergeser. Persoalan riil lain yang dapat dijadikan contoh ialah upaya memunculkan minat generasi muda terhadap jenis-jenis seni pertunjukan tradisi memang kurang mendapat perhatian besar dari para orang tua tatkala mendidik anaknya. Dalam kasus ini, memang terkadang faktor orang tuanya sendiri kurang memiliki pengetahuan yang memadai tentang ragam seni pertunjukan tradisi untuk dikenalkan.

Oret-oretan singkat di atas setidaknya menunjukkan atau memberikan gambaran pada kita bahwa kita menyadari betapa skup tantangan dalam dunia seni pertunjukkan tradisi menjadi semakin luas dan lintas sektoral. Kendati demikian, yang terpenting saya kira, ialah bagaimana caranya menyiasati seni pertunjukan tradisi ini agar keberlangsungannya tetap terjaga dan tentu saja, diminati oleh masyarakat kita dan juga bangsa lain. Dengan demikian, saya berharap kita dapat memberikan pandangan-pandangan positif untuk memantik solusi dalam penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi dunia seni pertunjukan tradisi kita.

[hanya oret-oretan orang jenuh]

****

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

One thought on “Soal Seni Pertunjukan Tradisi

  1. ckckckckck…jenuh pun tulisannya macam ini..gimana kl lagi semangat…ckckckckck…

    Posted by mami | March 9, 2011, 4:05 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s