//
you're reading...
antropologi, serba-serbi, tentang kota, tentang sejarah

Gardu yang Menjaga Kampung Jogja

Bila mendengar istilah “gardu”, maka saya—dan mungkin sebagian dari generasi muda yang tinggal di Jogja pada dekade 1990-an—akan teringat pada sandiwara radio bertajuk “Gardu Jaga”. Kala itu, secara reguler setiap Kamis malam, Rakosa (singkatan dari Radio Komunikasi Sambung Rasa) 106.5 FM, sebuah radio swasta berlokasi di Jalan Gadjah Mada 36, memutar serial sandiwara ini.

Sandiwara “Gardu Jaga” dikemas dalam nuansa humor dengan latar sosial sebuah kampung Jawa (baca: Jogja). Di setiap episodenya, diceriterakan bagaimana dinamika sosialita warga RT/04 yang terdiri dari berbagai macam karakter (kepribadian) dalam ragam latarbelakang profesi dan etnis. Pendeknya, RT/04 digambarkan cukup plural.

Yang menarik dari sandiwara ini ialah segala problematika dalam lingkungan RT/04 diobrolkan, digosipkan, hingga dirembukkan pemecahannya di cakruk (gardu). Dan, di akhir cerita Pak RT biasanya akan datang menengahi dan memberikan solusi terhadap persoalan warganya.

Lebih dari 10 tahun sejak episode terakhir sandiwara radio itu — karena radio ini sudah berganti halauan menjadi Female Radio, bila kita mencoba masuk ke sudut-sudut perkampungan di Kota Jogja akhir-akhir ini, maka tampak bahwa peran dan fungsi gardu atau yang pada masa Orde Baru dikenal sebagai pos Siskamling (Sistem keamanan keliling) kian berubah. Dari sandiwara itu, kiranya tidak berlebihan jika gardu, selain fungsinya sebagai pos ronda (jaga malam), merupakan sebuah tempat untuk sekadar bertegur-sapa atau ngobrol hal-hal ringan sampai serius sekalipun.

Abidin Kusno dalam Penjaga Memori: Gardu di Perkotaan Jawa (Ombak, 2007) menceritakan bahwa gardu sebenarnya merupakan bagian penting pada masyarakat perkotaan di Jawa sejak abad ke-19. Ini dipengaruhi H.W. Deandels yang membangun Jalan Pos Besar (Groote Postweg) Anyer-Panarukan. Dari situ, persahabatan gardu dengan masyarakat perkotaan Jawa seolah tak terceraikan.

Gardu pada perkembangannya kemudian dikenal sebagai tempat berkumpul para lelaki, jaga kampung di malam hari, ataupun sekadar bergosip dan bermain kartu atau catur sembari minum kopi panas. Pasca-Revolusi, gardu dijadikan salah satu perangkat kontrol penguasa dalam unit terkecil pada sebuah masyarakat, dengan Hansip sebagai punggawanya. Di masa Reformasi, gardu kembali bermetamorfosis menjadi posko-posko partai politik, dan lain sebagainya.

Namun, kini pelbagai ilustrasi mengenai citra gardu di atas sepertinya berangsur memudar. Gardu memang tak lagi menjadi tempat berkumpulnya orang bermain kartu yang pernah dianggap melanggar norma, tetapi gardu lantas tidak pula kembali menjadi wahana berkumpul warga demi keperluan, misalnya, sekedar ngudha rasa (berbagi ceritera) atau kembali pada esensinya, yakni sebagai “penjaga” kampung. Gardu di banyak tempat di Jogja justru malih sebagai tempat begadang untuk beramai-ramai menonton siaran langsung sepakbola. Bahkan, beberapa gardu sampai berlangganan TV Kabel!

Elemen-elemen pembentuk gardu, seperti Hansip, kentongan, dan jimpitan, di kampung-kampung Jogja kini tampaknya tidak lagi menjadi hal penting. Warga Jogja, barangkali, merasa tidak membutuhkan dan karenanya, kultur tepo selira (bertegur sapa) kita di cakruk kian hilang. Dan, dampaknya lebih jauh ialah kohesivitas (kerekatan) sosial masyarakat Jogja merenggang, karena di mata saya karakter masyarakat yang makin individual sejak dalam lingkup terkecil sebuah kota (kampung).

Maka itu, apabila kita menghendaki kondisi Jogjakarta sejalan dengan slogannya: Yogyakarta Berhati Nyaman, kiranya fungsi-fungsi sosial yang melekat dalam gardu pantas dihidupkan kembali agar relasi antarwarga tetap erat dan utuh.[]

tulisan ini bisa dibaca juga di rubrik Catatan para : http://etnohistori.org/gardu-yang-menjaga-kampung-jogja.html

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s