//
you're reading...
ceritera dan mitos, serba-serbi

Antara Boleh dan Jangan*

oleh Sindhunata

Who’s that girl? Siapakah Madonna? Madonna bukanlah that girl, si gadis tertentu itu. Madonna adalah siapa saja. Madonna adalah publik! Setiap perempuan adalah Madonna. Begitu Hanneflore Schlaffer dari mingguan die Zeit (17/8/2006) mengomentari sambutan publik di London terhadap show Madonna, Conflesions, belum lama ini.

Madonna bernyanyi tentang cinta atau tentang derita. Tapi kata Schlaffer, di atas itu semuanya, ia bernyanyi tentang lifestyle. Memang suara Madonna tidaklah sangat istimewa, tapi kepribadiannya bisa membawakan suatu lifestyle sedemikian rupa, sampai ia sendiri menjadi ejawantah dari lifestyle itu sendiri. Dan lifestyle itu adalah lifestyle gadis atau perempuan zamannya. Maka, Madonna bukan hanya ejawantah dari publikum tapi adalah publikum itu sendiri.

Lifestyle itu tak hanya tampak dalam gerak-geriknya, tapi juga dalam busananya. Tiap kali tampil, Madonna selalu mempunyai kostum baru. Kostum yang dicocokkan dengan tema atau rancangan penampilannya. Karena itu, ia sekaligus telah menjadi pencipta mode. Dengan kostumnya, ia bisa tampil dalam pelbagai wajah. Dalam mitos Yunani, hanya dewa yang wajahnya bisa berganti-ganti. Madonna menjadi dewi modern, karena seakan wajahnya selalu baru dan berganti.

Dengan kreasi busananya, Madonna bisa membawakan pelbagai lifestyle wanita modern. Padahal sesungguhnya ia membawakan suatu lifestyle yang satu dan sama: keberanian dan ketulusan untuk melanggar norma-norma dan tabu-tabu seksualitas. Publik sesungguhnya ingin bebas dan tak mempedulikan larangan dan tabu-tabu seks itu. Tapi mereka tidak berani. Maka, Madonna pun menjadi dewi buat mereka, menjadi ikon yang mereka damba.

Memang, zaman ini seakan ditandai dengan kebebasan seks yang luar biasa. Tapi sesungguhnya, tidak demikianlah halnya. “Tahun tujuh puluhan, situasinya jauh lebih longgar daripada sekarang,” kata Paul Verhoelen, sutradara yang ikut melahirkan film Basic Instinct (1992) dengan bintangnya Michael Douglas dan Sharon Stone. Verhoelen mengeluh, di Hollywood pun, sensor ternyata juga diberlakukan dengan keras. Maka waktu itu ia lega, bahwa suatu adegan dapat lolos. Tepatnya, ketika Sharon Stone menyilangkan kakinya, dan tampaklah sejenak, nyaris secepat kilat, apa yang ingin dilihat penonton di antara sepasang para bintang sexy itu.

Verhoelen merasa, ia seperti maling yang harus mencuri-curi adegan tersebut. Maka, ketika adegan itu tidak disensor, ia lega bukan buatan. “Halnya bukan untuk menunjukkan organ seks. Saya hanya ingin menunjukkan betapa luar biasa daya yang dimiliki organ seks seorang perempuan,” kata Verhoelen. Dan ia bilang, itu semuanya terjadi, karena dewasa ini seks terlalu dilebih-lebihkan. “Sesungguhnya seks itu biasa, sebiasa orang minum teh belaka,” katanya.

Sebiasa itu di Inggris pun juga tidak. Di negeri yang tampaknya penuh dengan sensasi seksual itu, seks ternyata tetap terombang-ambing di antara “dilarang” dan “diperbolehkan”, antara “jangan” dan “silakan”. Begitu misalnya diceritakan oleh suami isteri, Joseph Core dan Serena Rees, pemilik dan pengusaha Agent Provocateur, yang memproduksi pakaian dalam wanita untuk kaum elite. Mereka pernah kena perkara di pengadilan karena iklan pakaian dalam. “Saya jengkel, karena keberatan mereka tidak jelas. Saya tanya, apakah mereka keberatan terhadap buah dada, pantat, atau posisi kaki model-model iklan saya. Jawab mereka, tidak! Hanya ekspresi wajah gadis-gadis tersebut yang mereka persoalkan. Ekspresi wajah mereka serasa tidak sepantasnya. Sungguh tidak masuk akal,” tutur Core. Memang, dalam iklan tersebut tampak gadis-gadis itu seakan membujuk orang untuk “ngeseks”.

Bisnis pakaian dalam suami isteri Core memang berjalan dengan subur. Baru-baru ini Core memakai Kate Moss untuk iklan produk pakaian dalam mereka. Menurut mereka, Moss, super model itu, mempunyai sex appeal yang individual-autentik. Moss adalah wanita yang mau dikontrol tapi sekaligus juga lepas kontrol, bahkan tak mau dikontrol dalam menampilkan seksualitas. Ia bisa menjadi ikon bagi seksualitas zaman sekarang: “jangan” dan “boleh” sekaligus. “Ia alamiah. Saya bahkan mengatakan, ia manusiawi. Setiap orang mau berintim dengannya,” kata Core.

Dalam film iklan yang disutradarai Mike Figgis itu, Kate Moss tampil sebagai Miss X. dengan genit ia menuruni tangga, menanggalkan pakaiannya di kamar hotel, membisik-bisik di telinga orang-orang, yang kebetulan dijumpainya di gang, di depan pintu lift, atau orang yang terpantul dari kaca kamar mandi hotelnya. Ekspresi wajahnya, pakaian dalamnya yang hitam warnanya, pinggulnya yang indah, rambutnya yang pirang, mengingatkan orang akan seorang bintang dari Andy Warhols Factory tahun enam puluhan.

Menurut sutradara Figgis, Moss berhasil tampil sebagai wanita yang kuat, tapi juga “gila”. Penampilan itu pas dengan sikap orang-orang Inggris terhadap seks selama berabad-abad. Terhadap seks, mereka menunjukkan sikap nikmat sekaligus rasa bersalah. Dalam situasi itu, Moss tampil dengan “jangan dan bolehnya” sekaligus. Ia mencuat sebagai glamour dari apa yang terlarang. Bersama Moss, pakaian dalam yang diproduksi oleh Core dan isterinya dapat menjadi tawaran yang pas buat masyarakat di zaman ini.

Menurut Core, dewasa ini film maupun televisi membujuk kita dengan memberi kesan, kita semua mempunyai pikiran dan perasaan yang sama tentang seks. Itu tidak benar. Seks tetap tinggal sebagai pengalaman yang personal. Masing-masing ingin tampil secara lain, dan bermain secara lain pula. “Iklan belum tuntas menguasai rahasia seks,” kata Core.

Core mencoba mengupas rahasia itu untuk promosi produknya. Tapi toh ia tetap tak bisa lepas dari persoalan dan anggapan tentang seks yang selama ini melanda umat manusia: antara “boleh” dan “jangan”, antara “bebas” dan “terlarang”, antara “terserah secara individual” dan “norma yang mengaturnya secara sosial”. Kelihatannya manusia hidup dalam alam seks yang serba-bebas. Tapi di lubuk terdalam kita, orang tetap mengalami persoalan seks seperti dahulu dialami nenek moyang kita. Dalam hal seks, kita tak pernah mengalami kemajuan. Mungkin karena seks tidak sesederhana minum teh.

*dari majalah BASIS, Nomor 09-10, Tahun ke-55, September-Oktober 2006, hlm. 3.

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s