//
you're reading...
antropologi, tentang etnisitas, tentang ilmu sosial, tentang museum, tentang sejarah

Mooi Indie, Wajah Molek Kebengisan*

oleh Geger Riyanto, alumnus Sosiologi Universitas Indonesia

 

sampul buku "Affiche de l'Exposition Coloniale de Paris en 1931", Jean de la Mézière

Angkor Wat, candi yang menjadi keajaiban dunia milik Kamboja, sekonyong-konyong berdiri menjulang di Paris. Megah. Monumental. Pada 1933, di kota yang merupakan jantung kebudayaan Prancis itu diselenggarakan sebuah Pameran Kolonial Internasional. Di samping Prancis, yang tampil jumawa dengan candi terbesar di dunia bertabur relief spiritualis yang amat rumit, negara-negara Eropa lainnya tentu saja berusaha menyajikan puncak-puncak kebudayaan negeri-negeri jajahannya. Di pameran tersebut, gengsi dan prestise negara-negara penjajah diadu. Tiap-tiap negara kolonial berusaha menata anjungan negeri jajahannya secantik mungkin.

Bayangkan. Kota Paris tersaji dengan sebuah pemandangan yang pastinya membelalakkan mata; dari bangunan batu pualam yang ukurannya tak kira-kira sampai atap khas rumah Minangkabau. Erik Orsenna, seorang komentor, menulis, (Pameran Kolonial Internasional menghadirkan) pemandangan yang paling menakjubkan sepanjang sejarah Prancis! Sebuah sajian panorama seluruh sejarah kolonialisme kita, tulis surat kabar L’Echo de Paris. Tiga puluh empat juta pengunjung mendatangi pameran tersebut.

Belanda, sebagai negara mungil di Eropa yang menguasai wilayah puluhan ribu pulau berpenduduk puluhan juta, menjadi superstar di samping Prancis, si tuan rumah.Visualisasikan saja bagaimana sebuah anjungan yang dibangun dengan perpaduan dan komposisi tepat puspa ragam kebudayaan Nusantara; pintu kayu berukir dari pura Hindu Bali Selatan, kanopi bangunan bergaya masjid di Jawa, dinding sirap dari kayu besi Kalimantan. Decak kagum mengalir dari koran-koran Prancis dan wartawan mancanegara. Mereka terperangah akan kekayaan artistik arsitektur anjungan Belanda, sangat kontras dengan anjungan-anjungan lainnya.

Pada 1918, sejumlah delegasi dalam kongres Perkembangan Kebudayaan Jawa di Solo menyampaikan pernyataan,“Kebudayaan Jawa sedang dilumatkan oleh perang internal, sampai-sampai Tuhan menempatkan Belanda di Indonesia untuk menyelamatkannya!”

Mempercantik kekuasaan
Namun, pameran kolonial yang sekilas saya ringkaskan di atas tak sepantasnya hanya kita maknai sebagai sebuah pameran atau parade kemolekan. Pameran tersebut menandai periode puncak (sekaligus periode
terakhir) zaman kolonialisme. Eropa tidak lagi memperlakukan wilayah di luar Eropa sebagai area gelap dan liar yang harus didatangi dengan ekspedisi militer lantas ditaklukkan.

Iklan pameran di atas berbunyi “tamasya keliling dunia dalam sehari”, mengimbuhkan bayangan tentang keberhasilan kolonialisme Eropa menguasai seluruh dunia (dan menghadirkan miniaturnya dalam sebuah pameran kolonial). Tak ada lagi wilayah misterius yang tersisa untuk mereka jelajahi dan buka; mereka tidak lagi hidup dalam bayangan suatu hari dapat terdampar di sebuah pulau yang asing dan menghadapi kejaran suku kanibal buas, sebagaimana yang diceritakan roman Daniel Defoe dalam Robinson Crusoe. Belanda, contoh yang paling dekat dengan kita, saat itu telah merangsek hingga ke pelosok-pelosok Nusantara.

Praktek kolonialisme, yang sebelumnya identik dengan penjelajahan dan petualangan, pada awal abad ke-20 bergeser menjadi lekat dengan pengayoman dan pemeliharaan. Kekayaan, kemajemukan, dan keindahan
wilayah jajahan menjadi simbol-simbol gengsi sebuah negara kolonial. Belanda, yang dalam pameran tersebut mempertunjukkan keberhasilannya menjaga keragaman Hindia, menuai puja-puji dari negara-negara tetangganya. Tari legong, yang dibawakan gadis-gadis Bali yang sangat belia di anjungan Belanda, adalah sebuah aset yang bisa membuat para penjajah lain jatuh iri.

Namun apakah gairah kolonial untuk menjadi pengampu yang arif ini merupakan sesuatu yang tulus? Entah.Yang jelas, pada periode klimaks kolonialisme itu, perekonomian Eropa sudah sampai ke titik amat bergantung pada wilayah-wilayah jajahannya. Untuk Hindia-Belanda sendiri, banyak orang Londo yang percaya bahwa pendapatan yang dihasilkan negaranya dari Hindia mencapai 40-50 persen seluruh pendapatan nasionalnya (paparan Theodore Friend dalam artikel jurnal The Blue Eyed Enemy: Japan Against the West).

Ada satu ungkapan yang berkembang di antara warga Belanda saat itu, “Hindia hilang, malapetaka menjelang.” A.R. Zimmerman, bekas Wali Kota Rotterdam, mengemukakan paranoia tersebut dengan lebih lugas dan mengilukan dalam harian De Telegraaf, 25 Maret 1928, “Bayangkan wilayah koloni kita hilang, dan negara kita yang kecil ini tidak lagi bisa memberi makan anak-anaknya. Bayangkan jika kita kehilangan segalanya, seluruh posisi kita di dunia akan hancur berkeping-keping.”

Untuk menghadapi ketakutan akan kehilangan tersebut, Belanda terus-menerus meyakinkan kepada dirinya sendiri bahwa mereka merupakan juru selamat tunggal adab di Hindia. Pada 1918, sejumlah delegasi dalam kongres Perkembangan Kebudayaan Jawa di Solo menyampaikan pernyataan,“Kebudayaan Jawa sedang dilumatkan oleh perang internal, sampai-sampai Tuhan menempatkan Belanda di Indonesia untuk menyelamatkannya!” Pernyataan barusan memperlihatkan sebuah keyakinan kukuh yang meresap sampai ke tulang sumsum pengucapnya.

Contoh yang lain: Bali. Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Silang Budaya membabarkan, sumber-sumber kepustakaan Belanda pada abad ke-19 melukiskan Bali dengan gambaran yang hitam (yang tidak jarang hanya memuaskan prasangka mereka sendiri); perdagangan opium melumpuhkan masyarakat, perang saudara tak kunjung selesai, perampasan dan perdagangan budak menjadi bagian dari keseharian, para janda dikremasi hidup-hidup untuk atas nama tradisi.

Setelah pulau itu jatuh ke tangan Belanda, citra Bali yang bengis dengan segera dijinakkan menjadi pulau molek yang kita kenal hari ini. Dua tokoh yang meletakkan dasar gaya melukis Bali yang naturalistik, Rudolph Bonnet dan Walter Spies, menghasilkan lukisan-lukisan cat minyak yang berkilauan
dengan kemuliaan alam pulau tersebut dan para penduduknya yang bercocok tanam dengan paras yang polos.

Memelihara dan menaklukkan memang dua kata yang terdengar bertentangan tajam. Namun panggilan moral yang amat diyakini oleh pihak kolonial, hanya mereka yang dapat menjaga keutuhan kehidupan di Hindia, pada kenyataannya berjalan beriringan dengan logika ekonomi politik yang tidak memperkenankan Belanda melepas gugusan kepulauan yang menjadi sumber kehormatannya tersebut. Mooi Indie, Hindia yang molek, murni, terjaga utuh, adalah cara kekuasaan kolonial memberikan wajah halus pada kebengisannya.

Tragedi pascakolonial
Empat dekade kemudian setelah Pameran Kolonial Internasional, setelah Belanda harus menerima kenyataan pahit lepasnya Nusantara dari tangan mereka, Orde Baru mendirikan Taman Mini Indonesia Indah, sebuah miniatur Indonesia dengan anjungan-anjungan yang berusaha mementaskan kemajemukan kepulauan ini dengan gaya-gaya yang artistik dan indah.

Deja vu. Namun yang paling tragis adalah negara Indonesia menciptakan suasana di tanah airnya yang serupa dengan masa kolonial. Operasi militer yang beringas dilangsungkan di berbagai wilayah yang menunjukkan gelagat-gelagat konflik sumber daya. Lalu, apakah bedanya proyek kolosal maket Indonesia itu dengan pameran kolonial yang mempercantik hasrat kekuasaan para penjajah puluhan tahun yang lalu? Di hadapan nafsu vulgar untuk menguasai, apakah penjajah dan manusia Indonesia tak ada bedanya? Semoga tragedi-tragedi tersebut tidak berulang lagi. ●

*kolom Ide, Koran Tempo, hlm. A21, Minggu 12 Desember 2010

ngkor Wat, candi yang menjadi keajaiban
dunia milik Kamboja, sekonyong-
konyong berdiri menjulang
di Paris. Megah. Monumental. Pada
1933, di kota yang merupakan jantung
kebudayaan Prancis itu diselenggarakan
sebuah Pameran Kolonial Internasional.
Di samping Prancis, yang tampil jumawa
dengan candi terbesar di dunia bertabur relief
spiritualis yang amat rumit, negara-negara
Eropa lainnya tentu saja berusaha menyajikan
puncak-puncak kebudayaan negeri-
negeri jajahannya. Di pameran tersebut,
gengsi dan prestise negara-negara penjajah
diadu. Tiap-tiap negara kolonial berusaha
menata anjungan negeri jajahannya secantik
mungkin.
Bayangkan. Kota Paris tersaji dengan sebuah
pemandangan yang pastinya membelalakkan
mata; dari bangunan batu pualam
yang ukurannya tak kira-kira sampai atap
khas rumah Minangkabau. Erik Orsenna, seorang
komentor, menulis, (Pameran Kolonial
Internasional menghadirkan) pemandangan
yang paling menakjubkan sepanjang sejarah
Prancis! Sebuah sajian panorama seluruh sejarah
kolonialisme kita, tulis surat kabar L’
Echo de Paris. Tiga puluh empat juta pengunjung
mendatangi pameran tersebut.
Belanda, sebagai negara mungil di Eropa
yang menguasai wilayah puluhan ribu pulau
berpenduduk puluhan juta, menjadi
superstar di samping Prancis, si tuan
rumah.Visualisasikan saja bagaimana
sebuah anjungan yang dibangun dengan
perpaduan dan komposisi tepat
puspa ragam kebudayaan Nusantara;
pintu kayu berukir dari pura Hindu
Bali Selatan, kanopi bangunan bergaya
masjid di Jawa, dinding sirap dari kayu
besi Kalimantan. Decak kagum mengalir
dari koran-koran Prancis dan wartawan
mancanegara. Mereka terperangah
akan kekayaan artistik arsitektur anjungan
Belanda, sangat kontras dengan anjungananjungan
lainnya.
Mempercantik kekuasaan
Namun pameran kolonial yang sekilas saya
ringkaskan di atas tak sepantasnya hanya
kita maknai sebagai sebuah pameran atau
parade kemolekan. Pameran tersebut menandai
periode puncak (sekaligus periode
terakhir) zaman kolonialisme. Eropa tidak
lagi memperlakukan wilayah di luar Eropa
sebagai area gelap dan liar yang harus didatangi
dengan ekspedisi militer lantas ditaklukkan.
Iklan pameran di atas berbunyi “tamasya
keliling dunia dalam sehari”, mengimbuhkan
bayangan tentang keberhasilan kolonialisme
Eropa menguasai seluruh dunia (dan
menghadirkan miniaturnya dalam sebuah
pameran kolonial).Tak ada lagi wilayah misterius
yang tersisa untuk mereka jelajahi dan
buka; mereka tidak lagi hidup dalam bayangan
suatu hari dapat terdampar di sebuah
pulau yang asing dan menghadapi kejaran
suku kanibal buas, sebagaimana yang
diceritakan roman Daniel Defoe dalam Robinson
Crusoe. Belanda, contoh yang paling
dekat dengan kita, saat itu telah merangsek
hingga ke pelosok-pelosok Nusantara.
Praktek kolonialisme, yang sebelumnya
identik dengan penjelajahan dan petualangan,
pada awal abad ke-20 bergeser menjadi
lekat dengan pengayoman dan pemeliharaan.
Kekayaan, kemajemukan, dan keindahan
wilayah jajahan menjadi simbol-simbol
gengsi sebuah negara kolonial. Belanda, yang
dalam pameran tersebut mempertunjukkan
keberhasilannya menjaga keragaman Hindia,
menuai puja-puji dari negara-negara tetangganya.
Tari legong, yang dibawakan gadis-
gadis Bali yang sangat belia di anjungan
Belanda, adalah sebuah aset yang bisa membuat
para penjajah lain jatuh iri.
Namun apakah gairah kolonial untuk
menjadi pengampu yang arif ini merupakan
sesuatu yang tulus? Entah.Yang jelas, pada
periode klimaks kolonialisme itu, perekonomian
Eropa sudah sampai ke titik amat bergantung
pada wilayah-wilayah jajahannya.
Untuk Hindia-Belanda sendiri, banyak
orang Londo yang percaya bahwa pendapatan
yang dihasilkan negaranya dari Hindia
mencapai 40-50 persen seluruh pendapatan
nasionalnya (paparan Theodore Friend dalam
artikel jurnal The Blue Eyed Enemy: Japan
Against the West).
Ada satu ungkapan yang berkembang di
antara warga Belanda saat itu, “Hindia hilang,
malapetaka menjelang.” A.R. Zimmerman,
bekas Wali Kota Rotterdam, mengemukakan
paranoia tersebut dengan lebih lugas
dan mengilukan dalam harian De Telegraaf,
25 Maret 1928, “Bayangkan wilayah koloni
kita hilang, dan negara kita yang kecil ini tidak
lagi bisa memberi makan anak-anaknya.
Bayangkan jika kita kehilangan segalanya,
seluruh posisi kita di dunia akan hancur berkeping-
keping.”
Untuk menghadapi ketakutan akan kehilangan
tersebut, Belanda terus-menerus meyakinkan
kepada dirinya sendiri bahwa mereka
merupakan juru selamat tunggal adab
di Hindia. Pada 1918, sejumlah delegasi dalam
kongres Perkembangan Kebudayaan Jawa
di Solo menyampaikan pernyataan,“Kebudayaan
Jawa sedang dilumatkan oleh perang
internal, sampai-sampai Tuhan menempatkan
Belanda di Indonesia untuk menyelamatkannya!”
Pernyataan barusan
memperlihatkan sebuah keyakinan kukuh
yang meresap sampai ke tulang sumsum
pengucapnya.
Contoh yang lain: Bali. Denys Lombard
dalam Nusa Jawa: Silang Budaya membabarkan,
sumber-sumber kepustakaan Belanda
pada abad ke-19 melukiskan Bali dengan
gambaran yang hitam (yang tidak jarang hanya
memuaskan prasangka mereka sendiri);
perdagangan opium melumpuhkan masyarakat,
perang saudara tak kunjung selesai, perampasan
dan perdagangan budak menjadi
bagian dari keseharian, para janda dikremasi
hidup-hidup untuk atas nama tradisi.
Setelah pulau itu jatuh ke tangan Belanda,
citra Bali yang bengis dengan segera dijinakkan
menjadi pulau molek yang kita kenal hari
ini. Dua tokoh yang meletakkan dasar gaya
melukis Bali yang naturalistik, Rudolph
Bonnet dan Walter Spies, menghasilkan lukisan-
lukisan cat minyak yang berkilauan
dengan kemuliaan alam pulau tersebut dan
para penduduknya yang bercocok tanam dengan
paras yang polos.
Memelihara dan menaklukkan memang
dua kata yang terdengar bertentangan tajam.
Namun panggilan moral yang amat diyakini
oleh pihak kolonial, hanya mereka yang dapat
menjaga keutuhan kehidupan di Hindia,
pada kenyataannya berjalan beriringan dengan
logika ekonomi politik yang tidak
memperkenankan Belanda melepas gugusan
kepulauan yang menjadi sumber kehormatannya
tersebut. Mooi Indie, Hindia yang molek,
murni, terjaga utuh, adalah cara kekuasaan
kolonial memberikan wajah halus pada
kebengisannya.
Tragedi pascakolonial
Empat dekade kemudian setelah Pameran
Kolonial Internasional, setelah Belanda harus
menerima kenyataan pahit lepasnya Nusantara
dari tangan mereka, Orde Baru mendirikan
Taman Mini Indonesia Indah, sebuah
miniatur Indonesia dengan anjungan-anjungan
yang berusaha mementaskan kemajemukan
kepulauan ini dengan gaya-gaya yang
artistik dan indah.
Deja vu. Namun yang paling tragis adalah
negara Indonesia menciptakan suasana di
tanah airnya yang serupa dengan masa kolonial.
Operasi militer yang beringas dilangsungkan
di berbagai wilayah yang menunjukkan
gelagat-gelagat konflik sumber daya.
Lalu, apakah bedanya proyek kolosal maket
Indonesia itu dengan pameran kolonial yang
mempercantik hasrat kekuasaan para penjajah
puluhan tahun yang lalu? Di hadapan
nafsu vulgar untuk menguasai, apakah penjajah
dan manusia Indonesia tak ada bedanya?
Semoga tragedi-tragedi tersebut tidak
berulang lagi. ●

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s