//
you're reading...
serba-serbi, tentang kota

Seni, Seniman, dan Imej Kota Seni*

Karya seni dalam pameran di Museum of Modern Art (MoMA) New York 2010 [Foto koleksi Diah Kusumaningrum

Terus terang, saya pribadi masih berjarak dengan dunia seni, utamanya seni rupa dan seni-seni kontemporer. Sehingga, apabila diminta menerangkan mengenai hal itu maupun gejala-gejala yang melingkupi-mengitarinya, maka saya merasa kesulitan setengah mati. Apalagi jika ditanya mengenai apa makna seni dan para senimannya dalam kaitannya dengan Yogyakarta sebagai kota berimej kota budaya dan seni.

Terlepas dari itu, saya akan mencoba menunjukkan potret relasi kota gudeg ini dengan fenomena dunia seni yang muncul sebagai sebuah gejala kebudayaan. Dalam konteks ini, setidaknya ada dua elemen yang berkelindan secara umum, yaitu: para pegiat seni (seniman/pelaku) dan “institusi” pendukungnya.

Institusi yang saya maksud ialah pemerintah dan kampus (seperti Institut Seni Indonesia, dan kampus-kampus lainnya); galeri seni dan museum (seperti Jogja Gallery, Jogja National Museum, Bentara Budaya, Ullen Sentalu, dan sebagainya); events, peristiwa-peristiwa, dan berbagai macam acara yang kerap diselenggarakan di Yogyakarta (seperti Festival Kesenian Yogyakarta, Bienalle Jogja, ArtJog, dan seterusnya); serta kelompok-kelompok atau organisasi seni yang ada.

Itu semua, dalam bayangan saya sedikit-banyak ikut—jika tidak mau dikatakan paling berperan—menyumbang atau meneguhkan citra Yogyakarta sebagai kotanya para seniman selama ini. Tak ketinggalan, masyarakat pun merupakan unsur penting. Nah, pertanyaannya: bagaimana mereka bahu-membahu membangun Yogyakarta sebagai salah satu kota barometer jagad kesenian di Indonesia.

art as cultural production

Diakui atau tidak, saya menganggap aktivitas seni di Yogyakarta mampu menciptakan suatu “kebudayaan” tertentu, tradisi tertentu. Asumsinya, kebudayaan terus berubah karena ia digerakkan oleh apa yang terjadi dalam masyarakatnya. Dan, aktivitas itu sendiri tak bisa lepas dari konteksnya. Berbagai elemen seni (sebagai ‘teks’) di atas bertemu dengan Yogyakarta yang selama ini dikenal sebagai sentral kebudayaan Jawa (Yogyakarta sebagai konteks). Sesuatu itu dianggap ‘hidup’ karena terikat oleh konteksnya. Without the contextit (arts) remains lifeless (Murphy, 1978).

Pendapat Murphy itu berlaku dalam ranah seni. Yogyakarta memberi tempat tersendiri bagi orang yang bercita-cita menjadi seniman atau bergerak di bidang seni. Cita-cita ini kemudian bertemu dengan pelbagai institusi pendukungnya (kampus, sanggar, events, dst.) yang terus berkembang hingga kini. Akhirnya, dari kondisi demikian banyak seniman yang menetap di Yogyakarta, walaupun ada pula yang lalu-lalang. Ini semua merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.

Meski tidak selamanya bisa mewakili, namun hal-hal di atas merupakan salah satu yang ikut membentuk kultur seni dan berkesenian di Yogyakarta. Mulai dari kampus yang melahirkan seniman, deretan art events, ruang-ruang publik yang menyediakan tempatnya secara nisbi mudah dan (bisa dibilang) murah, apresiasi masyarakat umum dan turis, hingga kebijakan-kebijakan pendukung dari pemerintah.

Namun demikian, ini semua tidak lepas dari kekurangan. Misalnya saja, pandangan umum tentang mana yang (dipandang) karya seni dan mana yang bukan karya seni telah menjadi persoalan tersendiri, dan ini berjalin-kelindan dengan pandangan-pandangan tentang lokasi di mana suatu karya seni diletakkan. Di sini, menjadi berbeda halnya ketika kita menyaksikan suatu karya seni yang dipajang di museum atau galeri-galeri seni, dengan karya-karya yang berada di luar gedung-gedung itu. Muncullah kemudian kategorisasi-kategorisasi karya seni unggul (selected) dan bukan. Sebab, di mata saya, berbagai definisi dan kategori-kategori tentang hal itu menjadi relatif bahkan “politis”, namun sayangnya tidak cukup bila diuraikan di sini.

Tempo hari, kala berkunjung ke Art|Jog|10 di Taman Budaya Yogyakarta, saya menjumpai sekawanan remaja (seusia SMP) di ruang pameran. Sengaja saya dekati mereka, karena mereka nampak asyik berdiskusi tentang sebuah lukisan yang diamatinya. Saya pun ingin tahu apa yang mereka bincangkan terhadap karya itu.

Pikir saya saat itu, hebat juga mereka kecil-kecil sudah paham dan bisa merasakan suatu nilai estetika lewat apa yang disaksikan dan dialaminya pada karya seni rupa dan instalasi. Kalah jauh saya. Namun, usut punya usut, apa yang mereka perbincangkan tidak lebih dari pertanyaan-pertanyaan seputar kebingungan mereka tentang beberapa karya di sana. Kebetulan label karyanya pun berbahasa Inggris (yang sayangnya oleh panitia tidak diterjemahkan sebagai jembatan bagi mereka yang tidak bisa berbahasa Inggris), yang tidak dapat mereka pahami maknanya. Bila judul karyanya saja tidak dapat dimengerti, apalagi makna karyanya.

Ilustrasi sederhana itu menunjukkan dua hal, meski hal ini belum bisa dikatakan mewakili kondisi umum, yakni (1) sebagian dari karya-karya seni rupa pada masyarakat kita masih terkesan “elitis”, artinya bahwa pada tataran tertentu ia hanya diperuntukkan kepada para penikmat dan kolektor seni saja, bukan kepada masyarakat secara luas. Dan, dalam situasi yang demikian membuat (saya mempunyai) kesan bahwa (2) institusi seni (penyelenggara eventdan galeri seni, misalnya) kurang (tidak) mau menjembatani situasi keberjarakan antara karya-karya seni dengan masyarakat awam.

Memang benar bahwa di dalam suatu pameran tersedia katalog (yang tentu berbeda dengan selebaran/booklet pameran), namun katalog juga dijual dengan harga yang tidak murah. Lantas, kita enggan membacanya. Dan, akhirnya menyaksikan pameran dengan kepala kosong. Mengenai ini, kita bisa saksikan kala sebagian besar dari kita memasuki suatu pameran tanpa membawa dan membaca katalog untuk mendampingi jalan-jalan kita di suatu pameran. Padahal, di mata saya katalog itu merupakan pegangan penting. Gejala ini saya kira berlaku di hampir semua pergelaran pameran seni di Indonesia. Karenanya, menurut saya ini perlu dibenahi segera apabila dunia seni rupa menginginkan masyarakat awam (lebih) mengapresiasi karya-karyanya, sehingga kemudian seni tidak hanya untuk kalangan tertentu.

Yang ingin saya bilang di sini, sebenarnya sederhana. Bahwa hampir semua dari kita menginginkan masyarakat “berbudaya”, atau katakanlah masyarakat melek seni. Dalam pengertian tertentu, jelas pemaknaan tentang seni bagi setiap orang berbeda-beda. Namun, ketika kita menariknya pada sesuatu yang lebih luas, lebih massif, maka mau tidak mau tantangannya adalah menjadikan masyarakat kita lebih nyeni. Masyarakat yang nyeni jelaspenting. Institusi-institusi yang saya sebut di awal, serta para seniman merupakan punggawanya dapat membentuk corak kebudayaan tersendiri dalam masyarakat lewat segenap gagasan hingga aktivitasnya.

Sekadar contoh, menarik disimak kisah Apotik Komik yang digawangi oleh Samuel Indraatma dan kawan-kawan yang muncul di awal dekade 2000an. Mereka mencoba menawarkan sebuah bentuk karya seni baru di Yogyakarta, yakni mural, atau seni lukis pada media dinding. Aktivitas mural ini kesan saya justru lebih dekat dengan masyarakat, karena ia muncul di sudut-sudut dinding kota yang relatif lebar. Dan umumnya, mural ini lebih “realis” di banding karya lukis yang lain, dalam artian orang tanpa pengetahuan khusus pun dapat menikmati sepintas dan membaca pesan yang digambarkan dalam mural.

Peristiwa itu ternyata mendapat respon yang baik dari masyarakat, utamanya kaum muda. Beberapa sekolah menengah kala itu mulai menyelenggarakan lomba mural antarkelompok siswa, untuk memeriahkan hari raya kemerdekaan maupun pembuka tahun ajaran baru. Dan, belakangan pemerintah Kota Yogyakarta mendukung dan mengakui bahwa mural adalah salah satu karya seni, dengan mengizinkan dan menyediakan dinding-dinding kotanya untuk dilukis dan diadakan kegiatan lomba, daripada dicorat-coret tanpa tujuan tertentu oleh para vandalis.

Ini yang saya katakan bahwa, dengan menafikan dulu urusan tinggi rendahnya (anggapan tentang) kadar estetika terhadap suatu genre karya seni, keterlibatan masyarakat awam dalam menikmati dan mencerap ‘nilai-nilai’ dalam karya seni menjadi jauh lebih penting. Pendapat ini tentu sangat subjektif dan bisa dipatahkan kapan saja. Tetapi, kembali lagi kepada kenyataan bahwa yang lebih banyak terjalin selama ini dalam suatu karya seni, adalah hanya antara seniman (perupa/kreator) dengan para peminatnya saja (segmented consumers). Akankah cara pandang dalam pola relasi dunia berkesenian ini terus dipertahankan? Atau digeser (sedikit), agar seni kemudian tidak lagi dipandang eksklusif? Ya, semoga saja.[]

 

Khidir Marsanto P.,

alumnus Antropologi Budaya UGM, penekun kajian antropologi museum, budaya visual, dan etnisitas.

*Esai ini ditulis untuk Newsletter perayaan 10 Tahun RuangRupa Jakarta September 2010

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s