//
you're reading...
antropologi, tentang etnisitas, tentang kota, tentang museum

Museum Peranakan Tionghoa: Proyek Akur-Lintas-Budaya

oleh Khidir Marsanto

Di setiap tahun, masyarakat Tionghoa di Indonesia merayakan tahun baru Cina, Imlek. Perayaan ini mendapat sambutan dan ruang di tengah masyarakat kita. Bersamaan dengan itu pula, tercetus gagasan “gila” untuk mendirikan Museum Peranakan Tionghoa pertama di Indonesia.

Menarik dicermati karena di mata saya gagasan ini merupakan terobosan strategis sekaligus obsesi baru dalam wacana kebudayaan di Indonesia. Utamanya, dalam hal pembelajaran dan pemahaman lintaskultural sesama warga bangsa Indonesia dalam misi memperkuat nasionalisme. Di sisi lain, dalam konteks wacana jagad permuseuman global, gagasan ini selaras dengan tema “Museum and Social Harmony” yang diproyeksikan International Council of Museums (ICOM) tahun ini. Namun demikian, tantangan yang dihadapi untuk merealisasikan Museum Peranakan (keturunan) Tionghoa ini relatif pelik. Mengapa demikian?

Pascarezim Orde Baru yang otoritarian, bangsa Indonesia relatif semakin terbuka terhadap suatu hal yang dulunya terlampau dibatasi dengan alasan yang kerap kali tidak masuk akal. Kini, bangsa ini mulai berbenah dan menempatkan etnis Cina setara dengan sukubangsa lain. Diakuinya keberadaan Kong Hu Chu ke dalam agama resmi negara serta menjadikan Imlek atau Tahun Baru Cina sebagai hari libur nasional adalah percontohnya.

Seperti dikatakan sosiolog muda Geger Riyanto dalam esainya Menjadi Manusia Indonesiabahwa hampir tidak pernah kita bayangkan kondisi dua puluh tahun lalu dengan apa yang terjadi saat ini. Ekspresi kebudayaan masyarakat Cina dapat kita saksikan melalui atraksi singa-singa barongsai dan berbagai ornamen Imlek yang menghiasi setiap pusat keramaian serta halaman utama di media massa menjadikannya serba merah untuk sementara waktu. Kemeriahan ini adalah hal “baru” dan menurutnya, “telah mengubah wajah negara yang sebelumnya bahkan tak mengizinkan bahasa Mandarin dituturkan” (Riyanto, 2010).

Warga Tionghoa di Indonesia pada umumnya, perlu diberi ruang untuk meneguhkan jatidirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang mempunyai andil dan kontribusi positif dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

proyek multikulturalisme
Terkait dengan hal itu, gagasan pendirian museum peranakan (harusnya) pantas mendapat apresiasi dan dukungan moral maupun material. Warga Tionghoa di Indonesia pada umumnya, perlu diberi ruang untuk meneguhkan jatidirinya sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang mempunyai andil dan kontribusi positif dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Saya membayangkan tujuan mulia dari keberadaan museum ini, meski museum ini tidak akan serupa dengan Peranakan Museum di Singapura yang menyajikan berbagai kisah warga keturunan Cina, Melayu, dan India di sana.

Jangan disangka, raison d’être atau argumentasi logis di balik gagasan ini ialah sebagai ajang melanggengkan sisi primordialisme maupun etnosentrisme dari suatu etnis. Justru sebaliknya. Dengan Museum Peranakan Tionghoa —misalnya di Semarang sebagai salah satu kota sentra sejarah China di Indonesia, bangsa ini akan disuguhkan sesuatu yang baru yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Museum ini akan berperan sebagai agen penjaga keharmonisan (kohesi) sosial dalam relasi masyarakat kita yang plural. Ia perlahan pada gilirannya mampu menepis stigma negatif terhadap orang-orang keturunan Cina yang selama ini secara laten terus direproduksi. Ini yang namanya proyek multikulturalisme, atau keterpahaman nilai-nilai lintaskultural dari sebuah museum.

Di mata saya, peran museum ini nantinya sangat boleh jadi akan mirip dengan Arab American National Museum (AANM) di Kota Michigan, Amerika Serikat yang berdiri pada 2005. Dari tinjauan Raymond Silverman dalam Journal of American History (Desember 2006), AANM mampu mengilustrasikan segala aspek sosio-kultural bangsa keturunan Arab (Arab-American) di negeri Paman Sam. AANM menampilkan mulai dari sejarah migrasi, religiositas, sistem kekerabatan dan keluarga, musik dan seni, hingga kontribusi mereka dalam sejarah peradaban negeri adi daya itu.

Niatan dibangunnya AANM ialah untuk menunjukkan dan menyadarkan masyarakat Amerika Anglo-Saxon, Afro-American, dan Mestizo bahwa meski sebagai minoritas Arab-Amerika juga memberi sumbangsih dalam kehidupan dan sejarah Amerika Serikat sejak ratusan tahun. Dalam konteks Amerika Serikat, AANM menyembuhkan trauma pascaperistiwa 11/09 yang melahirkan stigma negatif dan kecurigaan yang berlebihan terhadap warga keturunan Arab di Amerika Serikat. Dengan demikian, museum ini mengajarkan untuk saling menghargai keberadaan sesama warga negara.

Berkaca dari pengalaman itu, meskipun situasi dan konteksnya tentu berbeda dengan warga Arab di Amerika, saya rasa museum seperti AANM layak dihadirkan di Indonesia demi terciptanya kehidupan sosial-budaya yang lebih harmonis manakala muncul keterpahaman dan pengakuan akan eksistensi budaya lain (bagi masyarakat non-Tionghoa tentunya).

Prakemerdekaan, masyarakat dan budaya Cina merupakan bagian dari “yang mempengaruhi” kebudayaan Indonesia yang muncul melalui perdagangan dan kebudayaannya, seperti koleksi-koleksi keramik Cina di Museum Nasional. Hingga, di ranah jurnalistik dan sastranya dengan Kwee Thiam Tjing (Tjamboek Berdoeri) sebagai salah satu tokohnya. Tetapi pascakemerdekaan, peran masyarakat peranakan seolah dinihilkan, bahkan sama sekali tidak “terpajang” di museum. Padahal wujud asimilasi kebudayaan dan sumbang-peran masyarakat peranakan saat ini tentu lebih riil (dapat dilihat dan dirasakan langsung) daripada pada masa lalu.

Karenanya, aspek sejarah beserta nilai-nilai positif dari budaya masyarakat keturunan Tionghoa perlu disebarluaskan. Bukan hanya dari interaksi sosial sehari-hari, melainkan juga dari kisah-kisah yang dikemas secara visual dalam museum. Sebab itu, bagi penggarap museum ini saya kira haruslah sangat berhati-hati saat merancangnya. Lantas apa yang mesti dipersiapkan agar museum ini nantinya lebih bermakna dan tidak menjadi museum sekali kunjung seperti pada umumnya museum di Indonesia.

dua elemen penting
Membangun museum jelas tidak sesederhana kala menggagasnya. Agar berhasil terwujud dengan baik dibutuhkan keseriusan dan ketelatenan ketika menggodok konsep museum. Untuk itu, tidak hanya perlu biaya yang besar sebagai modal, tetapi juga harus dilibatkan para pakar yang kompeten di bidangnya dalam riset prapembangunan.

Minimal ada dua elemen penting yang tidak boleh diabaikan: aspek eksterior dan interior. Pemilihan bangunan serta perancang ruang-ruang ekshibisinya dibutuhkan ahli arsitektur. Desain museum adalah satu hal pokok seperti dikatakan antropolog perkotaan JM Peter Nas. Begitu pula pada aspek interior atau penyajian isi memerlukan sumbangsih dari ahli sejarah Tionghoa di Indonesia agar catatan riwayat sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia dapat direpresentasikan dengan alur-kronologis yang tepat lagi akurat.

Selain itu, kata Fabrice Grognet (2001) dalam Ethnology: a science on display, dibutuhkan juga ahli antropologi dan arkeologi yang paham betul mengenai kebudayaan (seni dan sistem nilai) serta sistem kekerabatan (kinship system) dan budaya materi warga Tionghoa di Indonesia. Dan, para seniman yang tahu betul mengenai sistem artistik tata-pajang museum.

Memang tidak mudah membangun museum yang baik. Namun jika hal-hal prapembangunan itu terpenuhi, saya yakin museum ini siap untuk dihadirkan demi masyarakat multikultural yang harmonis. Akankah Anda mendukung? Semoga saja.
______________________________________
Khidir Marsanto P. Alumnus Antropologi UGM

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s