//
you're reading...
ceritera dan mitos, serba-serbi

Surati dan Plikemboh

by KuntzAgus

Anak lelaki Sastrotomo bernama Sastro Kassier, pemegang kas di pabrik gula Tulangan. Dia harus menyerahkan anak perempuannya, Surati, kepada penguasa pabrik gula yang baru, Frits Homerus Vlekkenbaaij, yang oleh penduduk setempat dipanggil Tuan Plikemboh. Sebelum menyerahkan diri ke Plikemboh, Surati sengaja menularkan dirinya dengan penyakit cacar, yang sedang mewabah. Plikemboh kena tular dan meninggal dunia, sedangkan Surati diambil kembali oleh keluarganya dan hidup dengan muka penuh bopeng.

What doesn’t kill us makes us stronger.
~Nietzsche

Cacar itu tidak membunuh Surati. Pun kita, siapa di antara kita yang belum pernah diidapi oleh virus Varisela ini? Semasa kecil, eyangku menyebut penyakit ini dengan nama “tukul baguse”. Sekali virus ini menyerang, dan kita bertahan hidup, tubuh kita akan membentuk antibodi, semacam tameng protein yang akan memberangus habis jika virus ini menyerang lagi di kemudian hari.

Tapi, Plikemboh mati. Dan, Surati bertahan hidup dengan muka penuh bopeng.

Seseorang pernah bertanya kepadaku, apa yang akan kau lakukan jika kau berhak menghapus satu masa lalu terburukmu, dan menjadikannya tak ada, dan kau sama sekali tidak mengingatnya? Tak ada, ya, aku tak akan menghapus apapun dari masa laluku. Aku tak akan menghapus masa kecilku ketika aku demam sangat tinggi dan menderita cacar di seluruh tubuhku. Aku tidak akan menghapus masa ketika aku ngebut dengan vespaku di malam hari yang sepi lalu menabrak sedan dan meninggalkan bekas luka di tubuhku.

Aku tidak akan menghapus kenangan-kenanganku di rumah, ketika ayah dan ibuku bertengkar dan aku berharap bahwa aku adalah anak pungut yang suatu kali ayah-ibu asliku akan mengambilku lagi. Aku tidak akan menghapus kenangan-kenangan tentang dia, kamu, kita, mereka dan apa yang telah terjadi baik buruk suka tidak suka tangis dan tawa.

Hal-hal itu tidak membunuhku, besi tajam yang dulu dihujamkan adikku ke kepalaku semasa kecil dulu tidak membunuhku, pun dengan ular yang bergelantungan di atap yang nyaris meraih kepalaku. Dan aku yakin, itulah yang menjadikan aku kini. Aku bukanlah aku ketika aku tidak mempunyai bekas luka di pundakku. yang membiarkan aku hidup, yang membuat bagaimana cara aku kini menjalani hidup.

Maka bertanyalah kepada Surati, apakah kau Surati akan menghapus masa ketika kau rela ditiduri Plikemboh demi menularkan cacar yang akan membunuhnya itu, yang membuat mukamu bopeng?

He who has a why to live can bear almost any how.
~Nietzsche

Dia yang mempunyai alasan untuk tetap hidup, akan selalu percaya, selalu bisa menanggung semua hal. Alasan sekecil apapun atau sebesar apapun, akan dapat dijalani bagaimanapun caranya. Aku percaya itu. Surati yang diciptakan Pramoedya adalah sebuah totem tinggi bagiku, pengingat, bahwa menghadapi apa sebesar apa, ketika harus dijalani, untuk hidup, itulah yang harus dijalani.

Dan jika ia tak sanggup membunuhmu, maka ia akan menjadikanmu lebih kuat.
atau kau boleh memilih: dying or endless suffering.

sumber: http://kuntz.tumblr.com/post/518700142/surati-dan-plikemboh

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s