//
you're reading...
antropologi, tentang kota, tentang museum

Sonobudoyo dan Problem Museum Kita

Muka Museum Sonobudoyo, Jogjakarta (Foto oleh Des Christy)

Oleh Khidir Marsanto P.*

Label anyar Yogyakarta sebagai kota museum muncul hampir berbarengan dengan program pemerintah Tahun Kunjung Museum 2010 sekitar enam bulan lalu. Meski demikian, predikat kota dan program nasional tersebut seolah hanya eforia sesaat, dan tetap menyisakan beberapa persoalan di sana-sini.

Sebagai ajang perayaan di tataran pemerintah, barangkali ia cukup berhasil dan membanggakan. Namun ketika kita meninjau museum di ranah praksis, nampaknya masih saja mengawang-awang dan berhadapan dengan sejumlah masalah riil yang tidak selalu dapat kita sadari. Maksud tulisan ini adalah menunjukkan letak persoalan tersebut.

Dari kajian yang saya lakukan dua bulan terakhir, kita bisa melihat setidaknya ada dua problem utama yang menghantui jagad permuseuman di Yogyakarta, dan sangat boleh jadi di beberapa kota lain. Terutama ketika museum diletakkan dalam konteks ramai-tidaknya kunjungan pada musim liburan saat ini (baca: industri pariwisata).

Pertama, adalah pada aspek internal museum itu sendiri. Aspek internal museum yang dimaksud ialah pada wilayah estetika visual museum. Kemudian yang kedua, lebih pada persoalan relasi museum dengan publik, yaitu sejauh mana strategi museum sebagai institusi edukatif dan seni membangun interaksi dengan publik secara positif/mutualisme.

… estetika visual museum adalah “nyawa” (core) dari tubuh museum, karena berhubungan dengan keberhasilan interaksi museum dan pengunjungnya …

Relasi Estetika Visual

Tidak banyak yang menyadari, bahwa satu hal terpenting dari museum adalah “penampilan”. Penampilan yang dimaksud mencakup dua unsur, yaitu (1) arsitektur bangunan dan tata-ruang serta (2) pameran atau tata-pajang (museum display). Kedua unsur dalam “penampilan” museum ini merupakan aspek formal atau aspek yang harus dipenuhi museum sebagai syarat utama dan terkait dengan estetika visual atau keindahan ekshibisi di museum.

Estetika visual museum inilah “nyawa” (core) dari tubuh museum, karena nantinya akan berhubungan langsung dengan persoalan kedua di atas, yaitu aspek interaksi antara museum dengan pengunjung. Ketika museum tidak memenuhi kedua unsur tersebut, maka museum menjadi sepi peminat, dan lama-lama akan gulung-tikar.

Contoh ilustrasi konkret museum yang tidak memperhatikan secara baik aspek formal museum adalah Museum Sonobudoyo (MS). Kompas (Rabu, 23/06) mewartakan MS sebagai museum berstandar internasional dengan koleksi sejumlah 42.589 sedang dirundung persoalan. Banyaknya koleksi dan predikat standard internasional ternyata tak menjamin MS diminati pengunjung.

Banyak teori tourism studies mengatakan bahwa museum bukan tipe tempat wisata yang memiliki karakter pengunjung repeater (pengunjung berulang). Dan lazim adanya ketika seseorang berkunjung ke museum hanya sesekali. Tetapi, perlu dicatat di sini bahwa sebenarnya ini hanya persoalan strategi museum. Aspek “penampilan” di museum memiliki sesuatu yang sifatnya bisa temporer, terutama pamerannya.

Dalam berita yang sama juga dikatakan bahwa tantangannya menjadi lebih berat untuk menarik pengunjung ketika Museum Sonobudoyo berhadapan dengan Keraton Yogyakarta sebagai simbol budaya dan pariwisata kota ini.

Meskipun demikian, saya berpandangan lain. Tidak selamanya sangkaan itu tepat, bahwa suatu museum akan kalah bersaing dengan obyek wisata ikonik seperti pada kasus Sonobudoyo dengan Keraton. Secara obyektif, kita harus melihat dulu seperti apa kondisi internal Sonobudoyo, sehingga dari situ baru kita bisa menelaah lebih jauh mengapa salah satu museum tertua di Indonesia ini sepi peminat.

Saya mencatat, dalam 10 tahun terakhir, koleksi yang dipamerkan dalam museum ini secara substansi tidak banyak yang berubah. Hanya itu-itu saja. Tata-ruang dan strategi tata-pajang koleksi dalam rak-raknya masih konvensional, belum canggih. Pertanyaannya, apakah ini cukup ‘internasional’ kalau hanya menambah pendingin dan pengukur suhu ruangan. Begitu juga kala kita jelajahi museum ini, tidak heran bila kita mengernyitkan dahi dan bertanya apakah benar museum ini memiliki koleksi sebanyak 42.589 buah? Di mana koleksi sebanyak itu?

Jika menghendaki museum ramai pengunjung, yang paling mungkin disiasati dengan memacu keterbaruan pada aspek tata-pajangnya, pada pamerannya. Karena, arsitektur bangunan museum mustahil dirombak karena memerlukan biaya besar. Dan, tentu saja harus melakukan strategi pameran berkala dengan menampilkan koleksi yang berbeda.

Sehingga, dari sini mau tidak mau museum harus melakukan publikasi kepada publik. Maka, otomatis publik akan mengetahui bahwa Museum Sonobudoyo rutin memamerkan koleksinya secara berkala karena menganut sistem rotasi koleksi. Meski koleksi bukan barang baru, tetapi benda-benda itu dapat dipamerkan dalam tema dan tata-pajang (penampilan) baru.

Ketika ini dilakukan, maka museum telah secara sadar membangun aspek estetika visual museum. Museum juga akan menjadi dinamis dan pengunjung yang awalnya merasa tidak perlu datang dua-tiga kali ke museum akan berpikir ulang. Paling tidak, mereka mempertimbangkan untuk melihat pameran koleksi yang lain.

Estetika visual baru dapat terwujud bilamana terjalin interaksi antara museum dengan pirsawannya. Estetika visual mengandaikan pengalaman personal pengunjung yang dibangun oleh seni tata-pajang yang baik, yang mengundang seseorang untuk menyaksikan tiap benda yang dipamerkan dengan jenak dan hikmat. Di situ akan terjadi pergulatan emosional seseorang dengan pelbagai ihwal kebendaan dalam dimensi historis maupun kultural.

Akhirnya, museum dalam “kota museum” tidak bisa selesai dengan jumlah museum yang berlimpah, tapi harus lebih dari itu. Tatkala kota mengemban citra sebagai kota museum, maka semestinya seluruh museum di Yogyakarta bergerak secara kreatif. Jangan sampai hanya berpangku-tangan menanti bala-bantuan pemerintah untuk pengembangan institusinya. Ide-ide kreatif harus dimunculkan untuk merengkuh jejaring pada lingkup lokal, seperti para seniman, kelompok seni dan pekerja budaya, serta akademisi untuk bekerja sama.

Dengan demikian, wacana museum yang berkembang di masyarakat dan pemerintah tidak melulu pada hal-hal non-substansial. Hemat saya, optimalkan kualitas museum-museum yang telah ada melalui kerja-kerja antarjejaring, daripada membangun museum baru seperti Pemkab Bantul yang menggagas museum gempa dengan dana sekian milyar rupiah (Kompas Jumat, 04/06). Atau, jangan sampai kita mengulang kasus terbengkalainya rancangan Museum Patiayam di Kudus, Jawa Tengah selama tiga tahun dan telah memakan ratusan juta rupiah (Kompas Rabu, 16/06). Semoga saja.

Tulisan ini dimuat di http://indonesiaartnews.or.id/artikeldetil.php?id=61

*Peneliti Muda bidang Museum dan Budaya Visual pada Lab. Antropologi Budaya, Universitas Gadjah Mada dan Parikesit Institut Yogyakarta

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s