//
you're reading...
serba-serbi, tentang sejarah

Hutan dan Jambangan

Oleh Romo Sindhunata

sarjana Islam, Bilal Sambur, bilang bahwa dengan akal dan pengetahuannya, manusia akan terbantu menjadi Ihsan atau manusia yang sadar

Hanya mereka  yang lemah takut akan akal. Orang beriman selalu mencari pengetahuan baru selagi ia bersembahyang. Begitulah dikatakan Asghar Ali Engineer, sarjana Islam, yang memimpin Centre for Study of Society and Secularism, Mumbai. Menurutnya, dalam Qur’an, akal mempunyai kedudukan yang amat sentral seperti iman. Fikr, aql, dan tadabbur (pikiran, rasionalitas, dan kontemplasi) ditekankan dalam banyak ayat Qur’an. Demikian juga ‘ilm, atau pengetahuan. Kata ‘ilm dengan semua derivatnya disebut 856 kali dalam Qur’an. Ini lebih banyak daripada kata jihâd dengan segala derivatnya, yang hanya 41 kali (lih. Hamdard Islamicus, Vol. 32, No. 3, Juli-September 2009, hlm. 86).

Karena itu, kata Asghar Ali Engineer, seorang muslilm tak boleh memisahkan iman dan akal. Justru jika ia beriman, ia harus mengembangkan terus akalnya, dan mencapai pengetahuan dalam tingkatnya yang tertinggi. Dan, ia harus terus menjalankan akalnya dan kekuatan inteleknya untuk melawan kekolotan tradisi, dan melawan praktik-praktik irasional yang menjalari masyarakat atas nama agama. Dengan akalnya, seorang muslim juga harus melawan iman yang buta, dengan meluaskan pikirannya untuk mencari ilmu baru. Ini semua akan menguatkan imannya dan memperluas pengetahuannya akan ciptaan Allah. Itulah sebabnya, orang yang beriman selalu mencari pengetahuan baru selagi ia berdoa, seperti diajarkan oleh Qur’an; Ya Allah, kembangkanlah pengetahuanku (Surah XX: 114).

Menguatkan iman dengan menekankan kembali peran akal, memang itulah yang diusahakan mati-matian oleh tokoh Islam modernis, seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad ‘Abduh, Qasim Amin di Timur Tengah, Syed Ahmad Khan di India, dan Sayid Syeikh al-Hadi di Malaya. ‘Abduh misalnya menolak, jika Islam dianggap memusuhi akal, sebab Islam adalah agama akal dan selalu mencari kebenaran. Islam mengharuskan akal juga mengecam kesetiaan yang buta serta menganut kebiasaan dan pendapat para pendahulu agama tanpa pertimbangan kritis apapun. Iman seorang muslim tidaklah dirugikan, bila ia percaya akan hukum-hukum alam, termasuk kausalitasnya, sebab hukum demikian diciptakan Allah untuk manusia. Mereka harus mempelajari hukum yang diciptakan Allah itu demi kebaikan mereka.

Islam mengharuskan akal juga mengecam kesetiaan yang buta serta menganut kebiasaan dan pendapat para pendahulu agama tanpa pertimbangan kritis apapun

Dengan akal dan pengetahuannya, manusia akan terbantu menjadi Ihsan. Menurut sarjana Islam, Bilal Sambur, Ihsan adalah manusia yang sadar. Dengan menjadi Ihsan, manusia selalu bisa hidup dengan sadar dan bertanggungjawab di hadirat Allah, yang selalu menjaganya. Dan karena sadar bahwa Allah selalu menjaganya, ia dapat menjadi menusiawi. Apa maksudnya menjadi manusiawi? Tak lain ialah bahwa manusia itu menjadi beradab, civilized person. Menjadi manusiawi dan beradab itu identik satu sama lain, karena keduanya merupakan aspek yang sentral dari kemanusiaan. Maka Ihsan, sebagai kesadaran akan kehadiran Allah, menjadi bukan hanya fundamen tapi juga prinsip yang menjamin keberadaban manusia. Jika manusia kehilangan Ihsan-nya, ia juga akan kehilangan kemanusiaan dan keberadabannya, sebab dengan menjadi tidak sadar di hadirat Allah sama saja dengan men-dehumanisasi-kan dan men-decivilized-kan kehidupan manusia. (Bilal Sambur, “Towards a Muslim Civilizational Theology: Ihsan as the Civilizational State of Individual”, dalam Islam and the Modern Age, Vol.34, No 1, Februari 2007, hlm. 9-23).

Karena anugrah ke-Ihsan-annya, manusia menjadi kelompok ciptaan, yang mempunyai tanggung jawab intelektual, rasional, dan etis untuk menciptakan peradaban yang manusiawi di dunia ini. Peradaban di sini bukan hanya dimengerti sebagai kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Lebih dari itu, peradaban adalah suatu proses pemanusiaan yang dinamis di segala bidang kehidupan, dalam bidang religius, politik, kultural, sosial, etis, filosofis, artistik, dan saintifik. Jika proses pemanusiaan ini dibalikkan, manusia akan kembali ke keadaan jahiliyya atau kebarbaran.

Menurut Bilal Sambur, Islam adalah sebuah sinonim bagi peradaban, sedangkan jahiliyya adalah musuh dari peradaban. Maka, umat muslim mempunyai tanggung jawab universal, yakni menjadikan dirinya sendiri beradab, dan melindungi peradaban di dunia ini untuk makin beradab. Jadi mengaktualkan peradaban, itulah tugas seorang muslim. Pedoman kaum muslim, Al amr bil Ma’ruf wa Nah’an al Munkar, seharusnya dimengerti sebagai prinsip untuk memajukan peradaban dan untuk mencegah ketidakberadaban atau jahiliyya.

Dalam terang cahaya ini, kaum muslim perlu mempunyai agenda peradaban bagi kemanusiaan baik untuk sekarang maupun untuk masa depan. Jadi kaum muslim janganlah sampai hanya berpaling ke peradabannya yang jaya dan gemilang di masa lampau, tapi hendaknya juga mempunyai rencana kerja untuk membangun proyek peradaban baru, sekarang dan di masa depan. Agas cita-cita itu bisa tercapai, kaum muslim perlu memahami dan menafsirkan ajaran Qur’an sebagai bimbingan peradaban, dan paradigma Nabi (sunnah) sebagai model untuk mempraktikkan peradaban.

Bilal Sambur bertanya, kalau Tuhan sudah menciptakan segala ciptaan dengan sempurna, mengapa Dia masih menciptakan manusia? Jawabnya: agar manusia bisa “menambahkan” sesuatu pada ciptaan. Tuhan ingin melihat, agar lahir sebuah peradaban manusia yang menjadi “tambahan” bagi ciptaan-Nya. Maka, peradaban dapat dimengerti sebagai kesatuan antara ciptaan Tuhan dan tambahan yang diupayakan manusia. Itulah yang kiranya terbaca dalam sajak Iqbal yang indah ini:

Engkau menciptakan malam,

dan aku menciptakan lampunya,

Engkau menciptakan lempung,

dan aku menciptakan tempat bunga,

Engkau menciptakan hutan, gunung dan padang gurun,

dan aku menciptakan taman, kebun buah-buahan dan

jambangan bunga-bunga

Sumber: Majalah BASIS, No. 03-04, Tahun ke-59, 2010. Hlm. 3

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s