//
you're reading...
tentang museum

Museum Sebagai Ruang Publik bagi Anak

Oleh Anastasia Dwirahmi

Hak anak, mulai dari pendidikan, rekreasi, hingga (yang utama) bermain, memang masih kerap terabaikan. Terlebih dalam agenda perencanaan sebuah kota. Bila kita lihat, di kota Semarang sendiri misalnya, sebuah ruang publik sekaligus arena kreatif yang memadai bagi anak-anak belum tersedia.

Memadai di sini berarti harus memenuhi syarat seperti aman, bebas asap rokok, memiliki nilai edukasi dan dapat diakses oleh semua anak dari golongan ekonomi apapun. Dalam ruang ini, anak-anak juga harus bisa berekspresi secara spontan.

Ketidaktersediaan ruang publik itu membuat anak-anak tidak memiliki alternatif untuk menikmati waktu senggang di akhir pekan selain pergi ke mall atau hanya menonton sinetron sampah di rumah. Di tengah kota yang tidak lagi memungkinkan seorang anak untuk bermain-main di sawah yang luas dan sungai yang jernih, menurut saya sebenarnya dibutuhkan sebuah arena bagi anak-anak untuk bisa bermain dengan aman dan nyaman.

Keberadaan ruang publik ramah anak di Kota Semarang memang sangat dirindukan. Apalagi kota ini baru saja mendeklarasikan diri sebagai Kota Layak Anak pada peringatan Hari Anak Nasional yang lalu. Ruang publik sangat penting keberadaannya bagi anak karena dengan ruang-ruang inilah anak-anak dapat mengasah kepekaan intelektual-emosional serta mengolah kesehatan jasmani-rohani.

Di ruang publik, yang didesain dengan baik, anak-anak mau tidak mau harus bergerak dan berpartisipasi, berpikir dan berinteraksi dengan teman-temannya serta mengembangkan kreatifitas mereka. Bandingkan saja dengan mal di mana hanya memiliki tempat bermain yang berisi benda-benda mekanis dan virtual, ataupun juga televisi yang jelas-jelas tidak membangun komunikasi dua arah. Ruang publik ramah anak juga sebaiknya lebih dari sekedar taman dengan ayunan dan perosotan. Diperlukan sumber daya manusia yang baik untuk mengelola ruang publik dengan lebih serius dan profesional.

Untuk mendesain sebuah arena kreatif bagi anak-anak sebenarnya tidak sulit. Menyinggung pendapat Walikota Semarang Sukawi Sutarip yang dimuat di sebuah surat kabar lokal, bahwa membuat ruang publik di Kota Semarang (kota yang sudah jadi) adalah sebuah hal yang tidak mudah, sejatinya tidak sepenuhnya benar.

Kota Semarang bisa memanfaatkan situs-situs yang sudah ada untuk diberdayakan menjadi ruang publik ramah anak. Salah satu contohnya adalah museum. Dengan kurang lebih lima buah museum di kota lumpia ini, ruang publik bukanlah suatu hal yang mustahil. Pemanfaatan museum malah akan menambah nilai dari museum itu sendiri dan meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk berkunjung ke museum.

Christine Wonoseputro, seorang arsitek Universitas Petra Surabaya, merilis sebuah laporan penelitian yang menarik. Dalam laporan tersebut ia mencermati bagaimana pembangunan kota seringkali mengabaikan keikutsertaan anak-anak sebagai elemen sosial kota. Hal ini yang menimbulkan munculnya the invisible playground yang sebenarnya dapat menimbulkan sumbangan positif bagi perkembangan kota tersebut.

Invisible playground dapat terbentuk asalkan memiliki elemen-elemen: aktivitas interaktif, kejutan (atraktif), ikatan emosi, dan faktor keselamatan dalam bermain (Wonoseputro, 2007). Keberadaan invisible playground dapat dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa memberi kontribusi yang baik bagi perkembangan kota yang ramah anak. Bila dikelola dengan baik, museum sebenarnya adalah sebuah aset kebudayaan dan pendidikan yang dapat memenuhi semua elemen-elemen tersebut.

Sebuah museum yang ideal, menurut International Council Of Museum (ICOM), seharusnya memiliki fungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian. Hal inilah yang kurang bisa dipenuhi oleh kebanyakan museum di Indonesia. Dengan membuat ragam program dan ekshibisi yang menarik bagi anak-anak, museum dapat mengembalikan perannya sebagai sebuah wahana pendidikan sekaligus hiburan.
Keterikatan museum dengan dunia pendidikan memang sebuah keniscayaan. Sebuah museum harus dapat mengantarkan pengunjungnya ke dalam sebuah petualangan yang melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru.

Museum selayaknya menjadi pusat eksplorasi ilmu pengetahuan, baik bagi anak maupun bagi orang dewasa. Bagi anak, museum sebaiknya tampil dengan pendekatan yang khusus dan memperhatikan kepentingan serta kebutuhan anak. Museum Anak Kolong Tangga di Yogyakarta dapat menjadi contoh nyata di mana sebuah museum dapat juga menjadi ruang publik untuk berkreasi. Anak-anak bebas bermain di halaman museum yang berlokasi di Taman Budaya Yogyakarta ini. Selain itu, workshop yang diadakan setiap minggunya dapat merangsang anak dalam berkreatifitas sekaligus menghidupkan suasana museum.

Semarang, walaupun belum memiliki museum anak dapat mengadaptasi metode tersebut. Beberapa museum seperti Museum Mandala Bhakti, Museum AKPOL dan Museum Ronggowarsito sebenarnya memiliki ruang yang ideal bagi anak. Yang diperlukan adalah penyediaan fasilitas pendukung dan orang-orang yang memenuhi syarat menjadi fasilitator dalam bidang pendidikan alternatif anak. Workshop yang disesuaikan dengan konten museum misalnya, bisa diadakan setiap akhir pekan.

Begitu juga pameran, museum bisa mendesain sebuah pameran dengan presentasi yang lebih ramah anak. Misalnya dengan dekorasi khas anak-anak dan permainan-permainan edukatif yang berkaitan dengan tema pameran. Objek-objek yang dimiliki oleh museum-museum di kota Semarang juga dapat membangkitkan kecintaan anak-anak terhadap kotanya. Dengan begitu museum dapat menjadi sebuah invisible playground yang interaktif, atraktif, mengikat secara emosi dan aman.

Bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat dalam hal promosi, acara bagi anak-anak yang diadakan di museum-museum tersebut dapat meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung ke museum. Mau tidak mau, museum di kota Semarang yang selama ini ‘sepi’ pun harus berbenah diri. Perawatan yang ekstra juga diperlukan bagi museum agar objek, bangunan dan area sekitar museum dapat dinikmati oleh anak-anak, namun tetap terjaga kelestariannya.

Dengan mendayagunakan museum sebagai ruang publik untuk anak, diperoleh sedikitnya dua keuntungan. Yang pertama, anak-anak di Kota Semarang memiliki ruang publik yang ideal dan yang kedua, membangkitkan geliat permuseuman di kota Semarang tercinta ini.

Sumber:
http://citizennews.suaramerdeka.com/index.php?option=com_content&task=view&id=990

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s