//
you're reading...
tentang kota

Yogya Perlu Trotoar Yang Demokratis

Elisa Sutanudjaja, arsitek dan pengamat perkotaan, pernah menyoroti Jakarta sebagai kota “diskriminatif”, sebab tak ada toleransi dan harmoni di antara para pejalan kaki, manula, saudara kita yang difabel, serta pengemudi sepeda dengan mereka yang berkendarakan metal bermesin dan berbahan bakar minyak. Baginya, di Jakarta hanya kaum berpunya yang dimanusiawikan, yang tidak mengalami diskriminasi. Bagaimana Yogyakarta?

Sejauh ini, subjektif saya sebagai pejalan kaki dan pengemudi sepeda ingin bilang bahwa meski tak separah Jakarta, wajah jalanan di Yogyakarta pun serupa. Karena itu, boleh bila saya memimpikan Yogya punya trotoar ideal, yang menghargai hak sesama pemakai jalan.

Kota ini hanya punya beberapa titik dengan trotoar yang lumayan baik. Misal, di sebagian ruas Jalan Jenderal Sudirman (antara TB Gramedia sampai pertigaan KFC). Di situ bahkan ada penanda jalan bagi para tuna netra berwarna putih, namun sayangnya tidak banyak yang tahu fungsi “jalur putih” itu. Kemudian, trotoar di sepanjang Jalan Mangkubumi serta di depan Bank Indonesia dan Kantor Pos ke timur, sampai perempatan Gondomanan.

Selain di beberapa tempat itu, jangan heran bila rasa-rasanya hampir tidak ada trotoar yang baik di Yogya. Yang mampu melindungi pejalan kaki dari seliweran motor dan mobil yang kerap arogan. Bahkan, kampus sebesar UGM, UNY, dan UII yang tiap tahunnya melahirkan sarjana-sarjana perencana kota pun tidak punya trotoar yang layak.

Di negara seperti Jepang, di kota Fukuoka atau Tokyo misalnya, “hodou” (trotoar) tidak hanya diperuntukkan bagi pedestrian, melainkan juga bagi pesepeda! Ini mengagumkan, lantaran sidewalks di kota-kota negara maju lain seperti Amerika Serikat justru berlaku ilegal jika sepeda melaju di trotoar. Agar tidak silang-sengkarut dan ruwet, trotoar di sana tidak menjadi tempat mangkal pedagang kaki lima semi permanen atau parking lot yang harusnya disediakan ruang tersendiri.

Menurut Enrique Peñalosa, mantan walikota Bogota (ibukota Kolombia), trotoar ialah hal terpenting dalam membangun kehidupan demokratis warga kota. Dari pernyataan itu tersurat, lewat trotoar inilah warga dari berbagai macam latar belakang bisa bertemu dan memiliki status yang sama, yakni sebagai pejalan kaki!

Ia juga mengatakan, sebuah kota disebut baik apabila kota itu ramah dan nyaman bagi anak-anak, manula, dan difabel. Dalam artian, warganya nyaman ketika berada di dalam (ruang privat) maupun di luar ruangan (ruang publik).

Belajar dari hal di atas, trotoar harusnya tidak hanya dimengerti secara fungsional sebagai jalur tepi yang sempit bagi pejalan kaki atau pesepeda. Tetapi juga lebih dari itu, yakni impak kultural dan ekologisnya. Impak kultural yang bisa muncul setidaknya pada tradisi bertegur sapa masyarakat Yogya yang mulai memudar. Sementara dampak lingkungannya jelas, Yogya akan menyumbang pengurangan emisi gas beracun di ruang publik dan pemanasan global.

Dalam benak saya, ketika fungsi-fungsi trotoar di Yogyakarta optimal, sebenarnya kita bisa menggagas sebuah konsep wisata baru yang sejauh saya tahu belum pernah ada di Indonesia, yakni “city walk tourism”. Ya, wisata jalan-jalan keliling kota. Bukan jalan-jalan dalam maknashopping atau muter-muter menyaksikan benda cagar budaya. Menurut saya itu kuno, konvensional.

Harapannya, pewisata bisa menikmati suasana Yogyakarta tidak hanya secara fisik, namun juga nuansa sosial-budayanya. Ini menantang masyarakat Yogyakarta yang berslogan Jogja Berhati Nyaman, berhati seniman, berhati budaya, dan demokratis. Semoga.

Khidir Marsanto P., lulusan Antropologi UGM

*Opini ringkas ini dimuat di rubrik Keliling Kota, Kompas Jogja, Rabu 27 Januari 2010
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/27/13292288/yogya.perlu.trotoar.yang.demokratis

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s