//
you're reading...
ceritera dan mitos, tentang etnisitas

Transmisi Norma Adat di Sentani

Helaehili dan ehabla masih dipraktikkan dalam
kehidupan masyarakat Sentani, namun seni puisi lisan ini mendekati kepunahan
karena sebagian besar pelantunnya merupakan generasi tua.

Mendiskusikan persoalan identitas pada masyarakat tertentu, niscaya kita tidak dapat menafikan unsur-unsur pembentuk kebudayaan masyarakatnya. Berbagai unsur fundamen terciptanya kebudayaan menurut Koentjaraningrat berupa sistem pengetahuan, bahasa, religi, teknologi, sistem ekonomi, kekerabatan dan organisasi sosial, serta seni.

Kesekian unsur tersebut seringkali tidak berdiri sendiri. Melainkan, saling berhubungan antara satu unsur dengan unsur lainnya, yang kemudian melahirkan sebuah kombinasi-kombinasi unik dalam kebudayaan. Terjadinya perpaduan ini bergantung pada kecerdasan pemilik kebudayaan dalam mengolah berbagai pengetahuan tentang dunianya. Kita dapat melihat perpaduan berbagai unsur tersebut di setiap kebudayaan. Seperti halnya tradisi seni puisi lisan helaehilidan ehabla pada masyarakat Sentani di tepian Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Tradisi helaehili dan ehabla ini setidaknya mengombinasikan tiga elemen kebudayaan di atas, yakni bahasa, seni, dan alat musik (teknologi) yang kesemuanya itu melambangkan sistem pengetahuan masyarakat Sentani.

Peneliti tradisi ini, Yektiningtyas (2008) mengatakan helaehili dan ehabla termasuk folklore yang oleh para ahli dikelompokkan sebagai ragam folktale. Kedua puisi ini merupakan puisi lisan fase pertama karena berlatar belakang non-tulisan. Ia juga termasuk puisi epik (puisi ceritera) di mana mengandung kisah romantisme, historisisme, dan heroisme. Fungsi keduanya sama-sama sebagai manifestasi kosmologi (alam pikir), pijakan cara pandang (world view), serta sistem sosial-kulturalnya. Dan, helaehili dan ehabla berlaku juga sebagai media pengirim pesan moral dan kultural dalam suku masyarakat Sentani.

Melestarikan Adat lewat Senandung
Helaehili bermakna ratapan dengan lantunan kata-kata yang berisi pujian serta ungkapan oleh para pelayat (laki-laki maupun perempuan) secara bergantian dan individual pada upacara kematian. Ia dilantunkan untuk mengekspresikan perasaan duka mendalam sekaligus ketegaran seseorang maupun kelompok pada masyarakat Sentani. Helaehili ini secara tradisi dilantunkan saat pelayatan, penguburan, atau setelah seremoni pemakaman selesai.

Helaehili sekaligus berfungsi sebagai media pengenang (commemoration device) segala perbuatan baik (keteladan) maupun jasa seseorang dari orang yang meninggal. Orang yang meninggal ini biasanya orang yang mempunyai kedudukan khusus dalam tatanan sosial masyarakat adat Sentani atau bisa juga sebagai orang yang dianggap berjasa pada kelompoknya (seperti menang perang, memperoleh banyak hasil buruan, dan lain sebagainya).

Status sosial dan banyaknya jasa orang yang meninggal mempengaruhi durasi pelantunanhelaehili. Lama mereka melantunkan helaehili juga dipengaruhi banyak sedikitnya ketersediaan orang yang mampu melantunkan puisi lisan tersebut. Helaehili lebih kerap dilantunkan oleh kaum tua atau tetua adat (kaum abu enime) atau oleh para bangsawan (ondofolu/ondoafi/kotelo). Namun, sebenarnya tidak ada batasan khusus siapa pelantun puisi helaehili ini, seperti status sosial, usia, jenis kelamin, dan seterusnya.

Sementara itu, ehabla (eha: sesuatu, dan bla: nyanyian) ialah lantunan yang dilakukan pada seremoni-seremoni adat yang sifatnya lebih gembira. Ehabla merupakan puisi lisan seperti halnya helaehili di atas, hanya saja karakter dan fungsinya agak berbeda. Secara karakter, puisi lisan ehabla lebih mengekspresikan perasaan-perasaan bahagia yang digamatkan ketika pelaksanaan ritual-ritual adat, seperti pelantikan ondofolo (kepala adat), pelantikan kepala suku, pemugaran makam, dan pembukaan lahan baru untuk berkebun.

Berbeda dengan helaehili, prosesi pelantunan ehabla dilaksanakan secara berkelompok agar meriah. Pelantunan ini idealnya dipandu oleh ayaling, pemimpin pelantunan yang juga berlaku sebagai pencipta puisi ehabla sebelum ritual dilaksanakan. Secara fungsional, manfaat ehablatidak jauh berbeda dengan helaehili, yakni sebagai alat pengingat jejak-jejak sejarah (bisa berupa asal-usul suatu suku, nama, atau tempat); media pendidikan moral dan kultural; atau hanya sekadar hiburan (pelengkap upacara adat tertentu).

Kedua ragam puisi lisan dalam masyarakat Sentani itu dilafalkan dengan irama tertentu. Kendati keduanya dilagukan dalam suasana atau acara yang berlainan, helaehili dan ehabla sama-sama mengandung pesan berupa nilai-nilai yang merepresentasikan kosmologi orang Sentani. Contohnya, peran sosio-kultural antara laki-laki dan perempuan (sexual division of labour) atau bagaimana melestarikan keutuhan ekosistem alam masyarakat Sentani secara eksplisit terwakili di dalam kedua teks puisi lisan ini.

Helaehili dan ehabla biasanya dilantunkan spontan dan bersamaan dengan iringan musik tifa (waku) dan aukilka beserta tariannya, sesuai karakter puisinya yang memiliki kalimat tidak bebas, bentuk dan isi bernilai estetik, dan terikat pada struktur bahasa, seperti rima, metrum, stilistik, dan repetisi. Sebelum dilantunkan, kedua puisi ini hanya disiapkan kerangka besarnya saja, selebihnya merupakan improvisasi dari para penggamat pada saat pentas.

Dari kesemuanya itu, helaehili dan ehabla dapat dimengeri sebagai ritus nyanyian —baik itu dalam suasana duka maupun gembira— yang melambangkan upaya-upaya transmisi pengetahuan tentang nilai-nilai dan norma adat lintas generasi. Karenanya, identitas masyarakat Sentani dapat terjaga dengan melestarikan seni puisi lisan ini.

Khidir Marsanto P.

Tulisan ini merupakan versi asli, sebelum dimuat di rubrik Local Wisdom hlm.13, Media Indonesia Sabtu 18 Juli 2009
*sumber ilustrasi: MISabtu hlm. 13
http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/07/18/index.shtml

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s