//
you're reading...
tentang kota, tentang sejarah

Optimalisasi Sekitaran Tugu Pal Putih

Di prapatan itu, bedug (jam) 22.30. Lampu kota berwarna kuning mulai terasa lebih terang, sebab berkurangnya kilau lampu kendaraan bermotor yang berseliweran. Di situ, nampak bakul gudeg khas Jogja siap menjajakan dagangannya. Sementara, ada sekawanan pemuda-pemudi mahasiswa berasyik-masyuk berfoto-foto di kaki badan sebuah tugu berwarna putih.

Di tengah “prapatan” yang mempertemukan Jalan Mangkubumi, AM Sangaji, Jenderal Sudirman, dan Diponegoro itu berdiri Tugu Pal Putih (De Witt Paal, Belanda) yang awam kita ketahui sebagai bagian dari titik kelindan garis imajiner Pantai Selatan-Keraton-Tugu Pal Putih-Gunung Merapi. Mereka berkerumun untuk melengkapi rekaman berbagai kenangan dengan Yogyakarta.

Sejarah mengisahkan, Tugu Pal Putih yang ada kini dibangun oleh Belanda setelah tugu sebelumnya, Tugu Golong Gilig kreasi Sri Sultan I pascaperjanjian Gianti, roboh akibat gempa pada 1867. Ia tak hanya berlaku sebagai monumen dari konstruksi mitis garis imajiner itu, melainkan juga daya magis. Konon, bagi yang menyentuh tugu ini, apalagi berfoto, maka mereka akan sulit berpisah dengan kota Yogyakarta.

Terlepas benar-tidaknya mitos itu, mereka yang ingin mengenang Yogyakarta dari Tugu Pal Putih pasti sadar betul dengan kesakralannya. Dalam arti, tugu ini dipahami sebagai lambang yang merepresentasikan (landmark) Yogyakarta. Sebab itu, tidak heran bila pemandangan demikian sering kita jumpai ketika malam hari. Tak hanya pada bulan-bulan saat sebagian kampus di Yogyakarta tengah bersiap untuk mewisuda para sarjana baru. Tiap malam, Tugu Pal Putih ramai.

Tradisi peluk-cium-berfoto di tugu ini bukan hal baru. Di Yogyakarta, seolah sudah menjadi tradisi bagi mereka yang lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri (dulu bernama SIPENMARU, UMPTN, lalu kini SPMB). Ketika informasi media cetak masih diandalkan, dini hari menjelang pengumuman, berombongan calon mahasiswa berdebar-debar menunggu di depan kantor koran harian tertua Yogyakarta di Jalan Mangkubumi.

Begitu mobil box pembawa koran datang, mereka langsung menyerbu, membeli, dan melihat hasilnya. Yang diterima, banyak yang berlarian mengucap syukur, lantas mereka mencium Tugu Pal Putih. Secara simbolik, ini adalah wujud ucapan terima kasih kepada Yogyakarta yang telah “membimbing” mereka hingga akhirnya mereka diterima di universitas yang diharapkan.

Tugu ini ternyata tak hanya bernilai historis-mitis, melainkan juga ia menampilkan diri sebagai daya tarik wisata kota di malam hari yang menakjubkan. Beberapa warung gudeg di sekitar prapatan tugu ini tentu sangat diuntungkan oleh keberadaannya yang hampir setiap malam selalu saja ada yang datang untuk berpotret di situ. Betapa indahnya berada di satu sudut kota Yogyakarta ini pada malam hari sembari menikmati gudeg di pinggir jalan dan memandang lampu kota yang mempercantik tugu itu.

Sayangnya, Pemerintah Kota belum berhasil menata kawasan itu secara baik dan menyeluruh agar menjadi lebih teristimewa. Harus disadari, Tugu Pal Putih ini memiliki kekuatan tersendiri karena mampu menghidupkan sektor riil di Yogyakarta pada malam hari. Ini sebenarnya memberi peluang secara ekonomi bagi masyarakat: mulai dari petugas parkir, penjaja kaki lima, maupun nantinya jika ada penjaja miniatur tugu di situ. Semoga saja.

Khidir Marsanto P., lulusan antropologi UGM

Opini dimuat di Kompas Jogja pada rubrik Keliling Kota hlm. C, Rabu 10 Februari 2010.

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s