//
you're reading...
tentang kota, tentang museum

Menyoal Tahun Kunjungan Museum

Tahun ini International Council of Museums (ICOM) mencanangkan “Museum and Social Harmony” sebagai tema tahunan museum di dunia. Dan, Oktober nanti ICOM akan menyelenggarakan konferensi lima tahunan di Shanghai, Cina bagi para delegasi museum dari puluhan negara di dunia untuk mempercanggih formulasi definisi museum yang telah ada. Ini dilakukan agar segenap aktivitas dunia permuseuman lima tahun ke depan lebih matang.

Indonesia, menurut saya, belum mampu mengikuti ritme jagad permuseuman di dunia itu. Namun, terobosan Asosiasi Museum Indonesia (AMI) bersama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk menyelenggarakan program Tahun Kunjungan Museum (TKM) 2010 sebagai langkah awal program jangka panjang Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) patut diapresiasi dan didukung penuh.

Impian dari gagasan TKM 2010 itu adalah menempatkan museum-museum di Indonesia sebagai museum yang menjadi pilar aktivitas kebudayaan, kesenian, sejarah, maupun ilmu pengetahuan. Sehingga, museum mampu bersanding dengan universitas, dan menjadi mitra institusi-institusi pendidikan, kesenian, dan kebudayaan di berbagai tingkatan.

Pun demikian, bagaimana itu tercapai bila kondisi museum tidak berubah? Jangan-jangan TKM 2010 hanya bermaksud untuk meramaikan museum yang selama ini lekat dengan citra sepi pengunjung, ataukah melalui program ini pemerintah akan membenahi museum kita agar layak kunjung? Lantas, bagaimana dengan museum-museum di Yogyakarta?

Kuantitas atau Kualitas?
Penelitian yang saya lakukan dua tahun lalu menunjukkan bahwa, secara historis, dibanding kota lain kecuali Jakarta, Yogyakarta memang merupakan kota terproduktif dalam melahirkan museum baru. Sejak tahun 1960 hingga 2008, pembangunan museum di Yogyakarta rata-rata mencapai angka lima museum baru per-dasawarsa dengan tiga klasifikasinya: pendidikan dan sains, sejarah dan perjuangan, serta seni dan kebudayaan.

Dengan demikian, tak mengherankan bila hingga tahun ini Yogyakarta memiliki lebih dari 30 museum. Hal ini kemudian menambah label Yogyakarta sebagai ‘Kota Museum’ (Kompas, 11/11/2009 dan 06/02/2010).
Tidak diragukan, secara kuantitas Yogyakarta mampu bertengger di papan atas. Sehingga, dalam konteks TKM 2010 Yogyakarta sangat siap. Namun, hal terpenting bukan soal banyak-sedikitnya museum. Melainkan tuntutannya lebih pada kualitasnya. Di lapangan, saya melihat rendahnya kualitas museum kita secara umum pada aspek: pengelolaan institusional, layanan pemandu, dan kuratorial (tingkat kecanggihan metode dan teknik memamerkan koleksi).

Hooper-Greenhill dalam Museum, Media and Message (1995) berargumen bahwa jaminan kualitas itulah yang dapat memantik orang untuk datang ke museum secara otomatis, sekalipun tanpa promosi. Namun, inipun belum cukup ketika diterapkan pada museum-museum kita. Masyarakat kita berbeda dengan masyarakat di Barat yang kebutuhan akan pengetahuannya tinggi. Karena itu, hal-hal di atas perlu di dukung oleh promosi yang memadai dan tepat sasaran dengan desain serta pengemasan program-program dari museum yang menarik.

Selain itu, kebanyakan dari museum kita tidak menampilkan hal baru dalam pameran-pamerannya sehingga museum menjadi “tempat sekali kunjung”. Karenanya, citra sepi yang melekat pada museum tidak akan berubah karena museum sendiri tidak mengubah apapun.

Perlu pendekatan baru
Hal lain yang perlu dilihat adalah faktor eksternal, yakni dukungan pemerintah. Menurut saya, hingga kini pemerintah masih berkutat pada paradigma kuno (konvensional) dalam mempromosikan museum untuk memantik minat berkunjung masyarakat. Belum lama ini diadakan rapat koordinasi antara pemerintah daerah dan pengelola museum di Yogyakarta untuk merespon TKM 2010. Di samping upaya ini boleh dibilang terlambat, lagi-lagi yang muncul adalah gagasan-gagasan lama dalam mempromosikan museum.

Pendekatan kuno di situ adalah pemerintah daerah menetapkan kebijakan yang menghimbau dan mewajibkan para siswa di tingkat sekolah dasar hingga menengah pertama untuk berkunjung ke museum. Upaya atau komitmen ini dilakukan agar museum menjadi ramai pengunjung. Dalam konteks TKM 2010, maka program Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi terlaksana dengan baik.

Dari sudut pandang tertentu, komitmen semacam ini problematis karena pertama justru mengarah pada—meminjam istilah Michel Foucault (1979)—usaha ‘pendisiplinan’ (baca: memaksa) para siswa untuk datang ke museum. Pendekatan ini tidak berimbas pada munculnya kesadaran akan pentingnya museum. Melainkan, yang hadir justru muncul rasa enggan, rasa keterpaksaan untuk “mencintai” museum.

Jika mencintai museum menjadi tujuan, maka ia gagal. Mengingat program GNCM yang dilangsungkan dalam jangka waktu lima tahun, harusnya pemerintah memaknai suksesnya GNCM bukan hanya sebatas ramai atau tidaknya museum, melainkan lebih dari itu, yaitu menyadarkan bahwa museum adalah tempat untuk menimba ilmu pengetahuan.

Kedua, museum harusnya bukan hanya dimengerti sebagai tempat bagi para siswa sekolah, melainkan bagi masyarakat umum. Sebab itu, menjadi penting untuk menjawab tantangan berikutnya: bagaimana caranya menempatkan museum sebagai “kebutuhan” masyarakat awam. Ketika museum menjadi kebutuhan, maka dengan sendirinya museum akan menjadi idola. Lebih jauh, ia akan menjadi ikon atau lambang sebuah kota, sebuah simbol citarasa (emblematic taste) kelas sosial tertentu layaknya ketika bertandang ke Museum Louvre di Paris atau American Museum of Natural History di New York.

Ketika pelbagai problem internal dan eksternal itu dapat diatasi, stigma yang selama ini melekat di pikiran kita bahwa masyarakat cenderung enggan atau tidak menyukai museum akan runtuh. Saya yakin, masyarakat akan datang ke museum.

Di mata saya, program TKM 2010 ini bisa dibilang sangat kemrungsung karena tidak mempertimbangkan dengan hati-hati aspek kesiapan, kemampuan, hingga kondisi sebenarnya museum-museum di Yogyakarta. Dengan demikian, perlu dipikirkan cara pandang baru untuk memajukan museum dan menyukseskan TKM 2010 di Yogyakarta. Semoga saja.

Khidir Marsanto P.
Alumnus Antropologi UGM, Peneliti museum di Pusat Studi Pariwisata UGM.

Tulisan ini dimuat di rubrik opini Forum, Kompas, Rabu 3 Maret 2010, hlm. D
sumber tulisan:
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/03/15205585/menyoal.tahun.kunjungan.museum.

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s