//
you're reading...
tentang kota

Kotabaru, Kawasan Ekspatriat

“ … wah, sekarang lu bisa nge-kos di Menteng-nya Jogja yah, hebat dong,” seloroh seorang sutradara film kenamaan Indonesia kepada koleganya yang nge-kos di salah satu rumah di Kotabaru, Jogjakarta. Karena anggapan si sutradara, harga sewa kos di situ sangat mahal.

Teringat kisah kawan saya tersebut, maka di suatu sore, tiba-tiba muncul keinginan untuk pit-pitan (bersepeda) mengelilingi Kotabaru. Berbekal pertanyaan: “apa bener Kotabaru seperti Menteng?” Maka, sepeda onthel pun saya kayuh dari Jalan Suroto ke arah srengenge yang akan tenggelam.

Mengitari sisi barat Kotabaru—melewati kompleks perumahan gaya Indo-Eropa hingga pasar bunga di Jalan Faridan M. Noto, berlanjut ke Jalan Abu Bakar Ali (melihat kompleks Gereja Kotabaru), saya kemudian belok ke kiri di bunderan Kridosono. Sesampainya di SMA 3 Yogyakarta, saya lanjutkan pit-pitan ini ke arah SMA Bopkri 1 (yang dulu digunakan sebagai gedung Christelijke MULO dan Akademi Militer) hingga melewati kompleks tentara. Akhirnya, saya memutuskan kembali ke Jalan Suroto, karena hari telah senja dan adzan maghrib telah berkumandang.

Dari pit-pitan sore itu, ternyata imaji sang sutradara film di atas yang mengumpamakan Kotabaru selaiknya kawasan Menteng, Jakarta, terasa tidak berlebihan. Kenapa? Bila kita pernah tahu sejarah pembangunan kawasan hunian di kota-kota besar di Indonesia masa kolonial (Belanda), maka sesungguhnya terjalin benang merah antara Kotabaru (dulu Nieuwe Wijk) dengan Menteng. Mereka sama-sama kawasan ekspatriat (orang-orang Eropa di Indonesia) di masa kolonial, sekaligus menjadi daerah ‘perekam’ jejak-jejak perjuangan bangsa Indonesia.

Ahli sejarah UGM Djoko Suryo (2005) bilang, pada awal abad XX, Belanda merancang sebuah kawasan permukiman untuk kaum ekspariat di Jogja. Maka, dibangunlah area hunian sekaligus fasilitas penunjangnya dengan model dan gaya kota di Eropa (beberapa menyebut gaya masa peralihan dari tipe Oud Indische Huis), salah satunya Kotabaru. Keberadaan Gereja Santo Antonius van Padua (1926, kini Gereja St. Antonius Kotabaru), area pacuan kuda (kini GOR Kridosono), sekolahan (Normalschool, kini SMP 5), rumah sakit, hingga taman kota nan asri, mengisyaratkan munculnya kota modern di Jogja ketika itu.

Karenanya, menyusuri sepanjang jalan Kotabaru, seolah membawa kita ke ‘kota Belanda’ awal abad ke-20. Bagaimana tidak, pola radial mendominasi model kawasan ini. Pola ini berbeda dengan kawasan di Jogja umumnya yang mengikuti arah mata angin. Ruas jalan boulevard yang relatif lebar serta taman dengan pepohonan rindang mengajak kita untuk sepaham bahwa Pemerintah Kolonial Belanda sebagai perancang kawasan hunian ini memimpikan ‘garden city’.

Dari situ, saya semakin menyadarai besarnya nilai historis Kotabaru bagi Jogja. Meski beberapa waktu lalu Pemkot Jogja telah menginventarisir Kotabaru sebagai Kawasan Cagar Budaya berkategori kawasan Pusaka (Kompas, 9/11/07), pit-pitan sore itu tetap saja menimbulkan keprihatinan yang dalam.

Melihat kondisinya saat ini, Kotabaru nampak dibiarkan ‘berkembang’ dan dilibas oleh kaum pemodal yang mengubah petak-demi-petak bangunan di kawasan ini untuk dijadikan sarana berdagang. Tidak salah, namun terasa kurang pas bila harus mengubah bentuk bangunan asli. Padahal, Kotabaru diakui menjadi bagian dari karakter (atau identitas) Jogja sebagai kota bersejarah.

Nah, akankah kita terus menjaga Kotabaru sebagai kawasan heritage? Jika tidak, maka Kotabaru dan Kota Jogja secara umum akan kehilangan identitasnya, karakternya. Sebagaimana dikatakan oleh seorang ahli perkotaan Barat, bahwa saat ini kota-kota di dunia tidak lagi mempunyai wajah khasnya, sehingga ia disebut: The City of Nowhere!!

Khidir Marsanto, lulusan Antropologi UGM
Dimuat Kompas Jogja, Rubrik Keliling Kota 20 Mei 2009

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s