//
you're reading...
tentang buku, tentang ilmu sosial

Ketika Selo Melegitimasi Ideologi Barat

Dekade 1950-an, selain menjadi saksi dimulainya perang dingin di antara blok-blok penguasa dunia baru, juga menjadi dekade kelahiran ”bapak” dan ”ibu” ilmu sosial Indonesia. Selo Soemardjan, figur yang hari ini dipanggil Bapak Sosiologi Indonesia, pada tahun 1956 dikirim oleh Ford Foundation ke Cornell University untuk belajar sosiologi.

Selo pernah menjabat sebagai camat di tiga periode sejarah yang berbeda—kolonialisme Belanda, pendudukan Jepang, dan revolusi Indonesia. Dan, sebagai Pamong Pradja di kota yang menjadi ibu kota Republik pada masa revolusi, ia pun pernah membantu George Kahin meneliti revolusi Indonesia. Ia mempertemukan mahasiswa doktoral Cornell itu dengan tokoh-tokoh revolusi. Ia pun menjadi penerjemah untuk Kahin.

Selo Soemardjan memang sangat berarti bagi Cornell dan Ford secara khusus, serta secara luas bagi Amerika, si blok Barat. Pengalaman Selo melintasi periode dekolonisasi di Indonesia adalah pengetahuan dengan nilai yang tak tergantikan.

Artefak Perang Dingin

Pemikiran yang berkembang di Cornell dan dunia sosiologi Amerika dengan sendirinya memberikan pengaruh yang kuat bagi Selo. Pemikiran Selo memberikan bentuk ilmu sosial di Indonesia hari ini.

Ambil bukunya, Perubahan Sosial di Yogyakarta (terakhir diterbitkan oleh Komunitas Bambu, 2009), dari sebuah disertasi yang menobatkan Selo menjadi doktor di Cornell. Selo meneliti bagaimana masyarakat Yogyakarta menghadapi periode revolusi, periode yang paling kritis dalam sejarah berdirinya negeri ini. Selo memperlihatkan bagaimana masyarakat secara aktif beradaptasi dengan zaman baru, dengan mengubah dirinya menjadi lebih terbuka, demokratis, dan dinamis.

Selo amat dipengaruhi teori sistem sosial, pemikiran yang saat itu merajai ilmu sosial.

Perspektif sistem sosial, selain sebuah teori sosiologi sebenarnya juga melegitimasi ideologi blok Barat saat itu. Teori elite dan teori sistem sosial adalah dua produk zaman itu. Sementara teori sistem sosial menganggap masyarakat sebagai satu keseluruhan yang bekerja sebagai sebuah sistem, teori elite menekankan bahwa dunia ini digerakkan oleh segelintir aktor rasional.

Teori-teori ini nyaris tak terpisahkan dengan ideologi demokrasi liberal yang berkembang saat itu. Menurut Talcott Parsons (The Social Systems, 1951), tokoh paling berpengaruh dalam ilmu sosial AS pada masa itu, sistem demokrasi liberal merupakan sistem yang dapat menjaga keutuhan masyarakat tanpa menafikan keberadaan individu-individu yang rasional. Berbeda dengan sistem masyarakat tradisional ataupun komunis yang mematikan perbedaan.

Selo, melalui disertasinya, berusaha menyesuaikan masyarakat Yogyakarta dengan format masyarakat ideal dalam sosiologi Barat. ”Pada awalnya Mataram adalah suatu kawasan politik yang berdaulat dan merdeka,” kata Selo Soemardjan.

Buku ini memperlihatkan kepada kita nuansa periode Perang Dingin, di mana negara-negara yang baru berdiri berusaha meletakkan fondasi keberadaannya dengan berbagai cara. Selo, sebagai intelektual, berusaha memperlihatkan bahwa format negara Indonesia telah ada sejak berabad-abad lalu.

Menulis Indonesia

Tetapi betapapun, buku ini merupakan sebuah artefak Perang Dingin. Kita tak bisa menyangkal adanya perlawanan tersembunyi Selo terhadap sosiologi Barat. Pada masa dekolonisasi, Selo menceritakan, Sultan HB IX memutuskan untuk menyerahkan separuh kekuasaannya kepada badan legislatif di Yogyakarta.

Setelah Agresi Militer Kedua, Belanda menawarkan Sultan untuk menjadi Raja Mataram Raya. Tetapi, ia menolaknya, bahkan Sultan memerintahkan para pamong praja untuk mengundurkan diri agar tak ada lagi pejabat tradisional yang bisa diajak Belanda bekerja sama.

Sultan, dalam pandangan Selo, tidak dibutakan oleh modal-modal seorang monarki: karisma, kedudukan politik, dan legitimasi kultural. Selo membenturkan citra manusia rasional-egoistis yang menjadi keyakinan ilmu sosial yang berkembang saat itu dengan realitas unik bernama Sultan HB IX dan perubahan sosial di Yogyakarta.

Pemberontakan diam-diam seorang Selo Soemardjan sejak awal memberitahukan kepada kita bahwa ilmu sosial Indonesia memang harus meniti jalannya sendiri.

GEGER RIYANTO Direktur Program Bale Sastra Kecapi

sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/24/04381058/ketika.selo.melegitimasi.ideologi.barat.

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s