//
you're reading...
tentang kota, tentang museum

Kenali Djogdja Sebagai Kota Museum

Sebelum tulisan ini dimuat di kolom nyempil “Keliling Kota” di Kompas Jogja, setahu saya tidak pernah ada satupun orang yang mengatakan bahwa Jogja adalah Kota Museum. Memang barangkali bukan hal penting siapa yang pertama menyebutnya, namun setelah itu beberapa tokoh permuseuman di Jogja seperti Pak Thomas ketika diwawancarai wartawan Kompas, mengatakan bahwa Jogja layak untuk dikenal sebagai Kota Museum. Begitu pula di sebuah iklan di Swaragama FM yang mengapresiasi Tahun Kunjung Museum 2010.

Iseng-iseng, saya bertanya pada salah seorang guide alias pemandu wisata di Yogyakarta beberapa waktu lalu,“Mas, museum di Jogja ini jumlahnya ada berapa sih?” Dengan ragu, ia mengatakan hanya ada belasan. Dan, ia pun terbata-bata ketika saya minta untuk menyebutkan namanya satu per satu beserta letaknya.

Dari ilustrasi itu, barangkali memang tidak banyak dari kita yang mengetahui bahwa Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota gudeg, kota pelajar, kota seni-budaya, sekaligus kota pariwisata serta sederet predikat lainnya, saya kira sesungguhnya layak juga disebut sebagai kota museum. Apakah terburu-buru mengatakan kota kita tercinta ini sebagai kota museum? Saya pikir tidak. Lantas, mengapa demikian?

Gelar tersebut layak disematkan lantaran jika melihat perbandingan kuantitas dan sisi perkembangannya (kualitas) dengan kota-kota lain. Yogyakarta, sebagai kota kedua yang menerima kehadiran museum pertamanya lewat Museum Sonobudoyo (awal abad ke-20) setelah Museum Radya Pustaka di Solo (sebagai museum tertua di Indonesia), merupakan kota yang sedikitnya menambah 1 museum per 5 tahunnya.

Seabad pasca-Sonobudoyo, perkembangan museum-museum di kota ini bahkan melampaui kota-kota lain (kecuali Jakarta tentunya), sebut saja Solo, Semarang, Bandung, juga Surabaya. Dan, bahkan dengan provinsi lain, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat yang notabene memiliki jumlah kota dan skala wilayah yang lebih luas dibanding Yogyakarta sebagai provinsi (Marsanto, 2008).

Alasan lainnya ialah, tanpa disadari bahwa hampir setiap wilayah di kota ini kita begitu gampang menjumpai museum. Perhatikan saja ketika Anda melintasi kawasan-kawasan berikut ini. Sebagai pusat kota, sekitaran keraton dan Malioboro kita dapat temui sejumlah museum: mulai dari Museum Keraton, Museum Kereta, Museum Sri Sultan HB IX, Museum Sonobudoyo, Museum Benteng Vredeburg, Museum Anak Kolong Tangga, Museum Puro Pakualaman, Museum Sasmitaloka Pangsar Sudirman, Museum Biologi UGM, hingga Museum Dewantara Kirti Griya milik Yayasan Taman Siswa.

Beranjak ke region timur Yogyakarta, kita akan menemui Museum Kebun Binatang Gembiraloka, Museum Wayang Kekayon, dan Museum Dirgantara Mandala TNI AU. Sementara di bagian barat kota ini, Jogja National Museum, Museum Sasana Wiratama Diponegoro, Museum Maritim, hingga Museum Bale Agung.

Menuju bagian utara Yogyakarta: Museum Batik, Museum Perjuangan Wanita, Museum Lukis Affandi, Museum Seni Rupa Nyoman Gunarsa, Museum Pusat TNI AD, Museum RS Mata dr. Yap, Museum Paleoantropologi UGM, Museum Geoteknologi Mineral UPN Veteran, Museum Kesaktian Pancasila, Monumen Jogja Kembali, Museum Ullèn Sentalu, dan yang terbaru Museum Gunung Merapi.

Sementara di wilayah selatan diwakili oleh Museum Perjuangan, Museum Budaya Melayu, Museum Rumah Budaya Tembi, Museum Tani, Museum Amangkurat, Museum Kayu Wanakagama, hingga Museum Gumuk Pasir di pantai Parangtritis.

Dari berbagai bukti serta kompleksitas jenis museum di atas, tidaklah berlebihan bila kita lantang menyebut Yogyakarta sebagai kota museum. Dan, lewat berbagai museum itu, yang mustahil dituntaskan dalam kunjungan satu-dua hari, kita dapat mengenal mengapa Yogyakarta ini kemudian berpredikat sebagai kota perjuangan, kota pelajar, kota seni dan budaya Jawa, dan seterusnya.

Sehingga, tak salah ucap seorang pelancong yang juga ahli perkotaan,”kunjungi saja museum di kota di mana Anda singgah, maka dari situ Anda akan mengenali kota yang sedang Anda kunjungi.” Ternyata, museum begitu penting bagi pendefinisian identitas kota Yogyakarta, dan apakah ceritera tentang pemandu wisata di atas masih akan terulang? Semoga tidak.

Khidir Marsanto P., lulusan Antropologi UGM

* Tulisan ini dimuat di Rubrik “Keliling Kota”, Kompas Jogja, Halaman C, Rabu 11 November 2009.

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s