//
you're reading...
antropologi, ceritera dan mitos, tentang etnisitas

Ghepangan, Cara Besemah Menampik Paceklik

Suku Besemah yang tersebar di Kota Pagar Alam dan sekitarnya punya cara harmonis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama pemenuhan pangan.

Jeme (masyarakat) suku Besemah yang menetap di kaki Gunung Dempo, Provinsi Sumatra Selatan, di ketinggian mencapai 3.195 meter ini melihat perlunya keseimbangan antara eksploitasi alam dan kebutuhan manusia agar terjadi kestabilan.

Lewat kebudayaan, mereka melahirkan nilai-nilai serta tata-aturan tertentu untuk menjaga dan merawat lingkungannya demi tercipta keselarasan hidup antara alam dengan kebudayaannya. Bagi mereka, memanfaatkan alam hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan tidak boleh berlebihan.

Dalam sebuah ceritera rakyat, suku Besemah sering disebut sebagai kaum pencari tanah subur. Sebab itu, mereka mendiami daerah dataran tinggi dan juga di sekitar aliran sungai atau ayik. Terdapat belasan ayikdi mana kelompok-kelompok klan Besemah membuka dan menggarap lahan. Mereka merupakan masyarakat penganut ume daghat (sistem ladang berpindah).

Terkait ilustrasi dalam folklore di atas, tak mengherankan apabila hingga kini sebagian besar dari masyarakat suku Besemah bermata pencaharian sebagai petani. Seorang peneliti barat, Gramberg (1867:539) menuturkan, mata pencaharian utama dari jeme Besemah sejak dulu ialah petani, alias kultur suku ini berbasis pertanian.

Basis kultural pertanian ini pada gilirannya melahirkan pola ritual, sistem kekerabatan, orientasi perekonomiannya, hingga corak pengelompokan jeme Besemah yang khas.

Catatan sejarah menunjukkan di awal abad ke-19 suku Besemah telah memiliki sistem penggarapan atau pengolahan lahan yang relatif lebih maju ketimbang suku-suku bangsa lain yang berada di sekitarnya.

Dalam sistem pembagian air pada lahan pertanian, misalnya, dikenal istilah siring (saluran air) dan papakan (bendungan). Sementara dalam model membuka lahan secara tradisional, mereka menerapkan sistem pembukaan lahan baru dengan cara membuka hutan kemudian dibuat petak-petak sawah.

Sebelum ditanam, bibit padi diuni (disemai) (Bastari Suan, 2007). Konon, cara atau teknologi bercocok tanam semacam ini ditularkan puyang (leluhur) bernama Singe Bekurung setelah merantau ke wilayah Kerajaan Majapahit di Jawa untuk belajar teknik bercocok tanam. Sebelum menanam padi, mereka menanam sayur-sayuran, dan sahang (lada).

Kendati tanah Besemah tergolong subur, tetap saja tak bisa dihindari bila datang masa-masa sulit bagi garapan pertaniannya. Saat tanah mulai dianggap tidak subur dan produktif lagi, mereka lantas beranjak ke tempat lain untuk mencari lahan tepi sungai yang lebih subur, hingga menetap di sana. Namun, hal ini tidak bisa selamanya dilakukan.

Bertahan kala paceklik
Dalam budaya Besemah dikenal teknik ghepangan dan bubus tebatGhepanganmerupakan teknologi tradisional peninggalan nenek moyang masyarakat Besemah yang tidak ditemukan pada suku lain.

Pengertian budaya ghepangan ialah kerelaan masyarakat Besemah agar menyediakan lahan di sekitar hunian untuk ditanami buah-buahan, semacam kebun buah. Kultur ghepanganditujukan untuk bertahan pada musim kering atau paceklik. Atau, ia berlaku sebagai sebuah sistem ketahanan pangan tradisional.

Dari ghepangan ini, jeme Besemah dapat mengambil makanan dari hasil kebun buah yang telah ditanami tersebut. Tak hanya itu, ghepangan juga berfungsi sebagai penyedia makanan atau buah-buahan untuk menjamu sanak keluarga atau kerabat yang sedang berkunjung.

Hingga kini, budaya ghepangan masih diterapkan sebagian masyarakat di beberapa desa di Kota Pagar Alam, yang tetap menyediakan sebagian lahannya untuk ghepangan.

Seperti halnya kultur ghepangan, suku Besemah pun memiliki teknologi bubus tebat. Budayabubus tebat atau ‘menguras kolam’ juga merupakan tinggalan kepandaian nenek moyang masyarakat Besemah sebagai bagian dari sistem ketahanan pangan mereka.

Bedanya dengan ghepangan, di dalam tradisi bubus tebat ini masyarakat Besemah membuat kolam untuk memelihara ikan. Kolam tersebut berfungsi sebagai cadangan makanan kala paceklik tiba. Fungsi lainnya, bubus tebat ini juga kadang digunakan untuk mengairi sawah-sawah milik masyarakat.

Secara tradisi, tata laksana pembuatan kolam ikan ini bergotongroyong, mulai dari pembibitan, pemeliharaan, hingga menuai hasil tangkapan ikan dari kolam air buatan tersebut.

Saat penangkapan ikan, pemetung (semacam kran untuk menyalurkan atau mengeringkan air yang ada di tebat) dibuka agar air menjadi surut. Air tidak dibuang, melainkan dialirkan ke sawah atau ghepangan.

Dalam prosesi ini, air tebat (kolam) dibubus (dikeringkan) terlebih dulu agar memudahkan menangkap ikan. Kemudian, beghikan atau mbeghak gale (menangkap ikan bersama). Dan sesudah itu, hasil panen ikan dibagikan secara merata.

Tebat ini memiliki beberapa nama, tergantung lokasi di mana dibuat, misalnya, tebat besak di Padang Tinggi, tebat puyang Pengiran di Dusun Keghinjing, tebat gebung di Besemah Ulu Manak Ulu, dan sebagainya.

Biasanya, penangkapan hasil ikan dilakukan pada saat menjelang hari raya Idul Fitri atau jika penduduk ada yang menyelenggarakan hajatan. Penduduk yang punya hajatan dapat mengambil ikan-ikan dari kolam buatan, dan hal ini merupakan salah satu strategi menghemat.

Kini, tradisi bubus tebat hampir punah dalam kehidupan jeme Besemah, kecuali hanya dijadikan sebagai sajian atraksi pariwisata. Sangat disayangkan bila dua tradisi itu diabaikan, mengingat kondisi perekonomian bangsa ini yang fluktuatif.

Sekiranya, kearifan yang dianggap pesake (pusaka) ini pantas dilestarikan sebagai satu alternatif atau siasat untuk meningkatkan daya tahan pangan atas kebutuhan primer, tak hanya bagi masyarakat Besemah di Kota Pagar Alam. Melainkan juga, dapat diadopsi masyarakat lain di Indonesia pada umumnya.

Hal lain, bagi jeme Besemah, melestarikan tradisi ini paralel dengan petuah Atung Bungsu,inde’an (teladan) sekaligus puyang jeme Besemah, bahwa anak-cucu Besemah harus menjaga keturuan alih generasi. Yang berarti juga harus menjaga pesake puyang dekale(warisan adat istiadat) di pangkal tangge (lingkungan sendiri).

Khidir Marsanto P, lulusan Antropologi UGM

* dimuat di rubrik Local Wisdom, MISabtu (harian MediaIndonesia), 21 November 2009, hlm. 14.
http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/11/21/INDEX.SHTML
** sumber ilustrasi, Local Wisdom MISabtu (21/11/09), hlm. 14.

About Khidir

Lahir pas 6 Maret 1984 dari perkawinan guru Fisika dengan wanita desa biasa. Menyelesaikan sekolah di bidang antropologi di Fakultas Ilmu Budaya, UGM Yogyakarta pada 2008 dengan skripsi tentang sejarah dan politik display museum di Yogyakarta. Kemudian bekerja, sampai akhirnya dapat uang untuk sekolah lagi, dan dipecat dari pekerjaan itu sebab 'aktivitas kampus mengganggu rezim kantoran'. Dapat dijumpai di email: marsanto.iid@gmail.com atau Twitter @iidmarsanto

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s